Dalam dunia tulis-menulis, baik itu untuk kebutuhan skripsi, artikel blog, maupun dokumen profesional, menjaga orisinalitas adalah harga mati.
Namun, sering kali kita harus merujuk pada ide atau data dari sumber lain untuk memperkuat argumen kita.
Di sinilah banyak orang terjebak: jika hanya menyalin mentah-mentah, kita terancam terkena plagiarisme. Lantas, bagaimana solusinya? Jawabannya adalah teknik parafrase.
Secara mendasar, parafrase adalah teknik mengungkapkan kembali ide atau pesan dari orang lain menggunakan kata-kata sendiri tanpa mengubah makna aslinya.
Teknik ini bukan sekadar mengganti satu atau dua kata dengan sinonimnya, melainkan kemampuan untuk “mencerna” sebuah informasi dan menyajikannya kembali dengan struktur dan gaya bahasa yang baru.
Bagi mahasiswa, menguasai parafrase adalah kunci untuk lolos uji Turnitin. Bagi penulis konten, ini adalah cara terbaik untuk menciptakan artikel yang unik dan disukai mesin pencari seperti Google.
Dalam panduan ini, kita akan mengupas tuntas mengenai apa itu parafrase, teknik-teknik jitu melakukannya, hingga contoh nyata agar tulisan Anda tetap berkualitas dan sepenuhnya orisinal.
Baca Juga: 10+ Rekomendasi Writing Tools untuk Penulis Jadi Lebih Produktif
Apa Itu Parafrase?
Banyak orang mengira bahwa melakukan parafrase hanya sekadar mengganti kata dengan sinonimnya. Padahal, makna sebenarnya jauh lebih dalam dari itu. Secara etimologis, istilah parafrase berasal dari bahasa Yunani paraphrasein, yang berarti “cara pengungkapan tambahan”.
Pengertian Secara Umum
Secara sederhana, parafrase adalah proses menuangkan kembali sebuah ide, gagasan, atau pesan dari sumber asli ke dalam bentuk rangkaian kata yang berbeda, namun tetap mempertahankan esensi dan pesan yang sama.
Dalam teknik ini, Anda tidak sedang meringkas (memendekkan), melainkan sedang “menerjemahkan” gaya bahasa penulis asli ke dalam gaya bahasa Anda sendiri.
Hasil parafrase biasanya memiliki panjang yang relatif sama dengan teks aslinya, namun dengan struktur kalimat dan pilihan kata yang sepenuhnya baru.
Parafrase Menurut Para Ahli
Untuk memahami definisinya secara lebih akademis, mari kita simak pendapat beberapa otoritas bahasa berikut:
- Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI): Parafrase didefinisikan sebagai pengungkapan kembali suatu tuturan dari tingkatan atau macam bahasa tertentu menjadi yang lain tanpa mengubah pengertiannya.
- Oxford Advanced Learner’s Dictionary: Mendefinisikan parafrase sebagai cara menuliskan kembali sesuatu yang telah ditulis atau dikatakan oleh orang lain dengan menggunakan kata-kata yang berbeda agar lebih mudah dipahami.
- Pakar Linguistik: Sering menyebut parafrase sebagai “penerjemahan intra-bahasa”, yaitu mengubah bentuk teks dalam bahasa yang sama tanpa menghilangkan substansi informasinya.
Perbedaan Utama: Parafrase vs Ringkasan
Banyak penulis pemula menganggap bahwa parafrase dan meringkas adalah hal yang sama karena keduanya sama-sama menggunakan bahasa sendiri.
Padahal, baik dari segi tujuan, teknik, hingga etika penulisannya memiliki perbedaan yang signifikan. Berikut adalah garis besar perbedaan keduanya:
1. Teknik yang Digunakan
Perbedaan mendasar yang pertama terletak pada cara pengolahan teksnya.
- Parafrase: Teknik ini fokus pada penyampaian ulang gagasan dengan gaya bahasa sendiri tanpa menghilangkan detail informasi. Hasilnya bisa sama panjang, sedikit lebih pendek, atau bahkan lebih panjang dari sumber aslinya jika tujuannya adalah memperjelas istilah yang rumit.
- Ringkasan: Teknik ini hanya mengambil “inti sari” atau gagasan pokok saja tanpa menyertakan penjelasan tambahan atau detail pendukung. Hal inilah yang membuat hasil ringkasan selalu jauh lebih pendek dari teks aslinya.
2. Waktu dan Tujuan Penerapan
Kapan Anda harus menggunakan parafrase dan kapan harus menggunakan ringkasan?
- Kapan Menggunakan Parafrase: Biasanya dilakukan untuk menghindari penggunaan kutipan langsung yang terlalu banyak, yang bertujuan menurunkan similarity index (skor plagiarisme). Selain itu, parafrase sangat berguna ketika Anda ingin menjelaskan istilah ilmiah yang sulit menjadi bahasa yang lebih sederhana dan mudah dipahami.
- Kapan Menggunakan Ringkasan: Lebih sering digunakan ketika Anda menghadapi naskah yang terlalu panjang atau bertele-tele dan ingin merangkumnya agar lebih padat. Ringkasan sangat efektif untuk efisiensi waktu saat Anda ingin membaca ulang poin-poin penting dari sebuah buku atau artikel yang tebal.
3. Kewajiban Mencantumkan Sitasi (Sumber)
Ini adalah poin yang paling krusial dalam etika penulisan karya ilmiah.
- Sitasi pada Parafrase: Meskipun susunan kalimat dan struktur bahasa sudah berubah total dan menjadi sangat unik, ide yang disampaikan tetap milik orang lain. Oleh karena itu, sitasi wajib dicantumkan baik di dalam teks maupun di daftar pustaka. Mengabaikan hal ini bisa membuat Anda terjerat kasus plagiarisme.
- Sitasi pada Ringkasan: Jika ringkasan dibuat hanya untuk catatan pribadi (seperti rangkuman belajar), mencantumkan sumber mungkin bersifat opsional. Namun, jika ringkasan tersebut dimasukkan ke dalam naskah karya ilmiah, Anda tetap harus mencantumkan sumbernya di daftar pustaka atau catatan kaki (footnote).
Mengapa Parafrase Sangat Penting?
Menguasai teknik parafrase bukan hanya tentang mengubah kata-kata, tetapi tentang menjaga integritas penulis dan kualitas karya tersebut.
Berikut adalah beberapa alasan utama mengapa parafrase menjadi keterampilan yang wajib dimiliki oleh setiap penulis dan akademisi:
A. Menghindari Plagiarisme
Inilah alasan paling mendesak bagi sebagian besar mahasiswa dan peneliti. Saat ini, institusi pendidikan menggunakan perangkat lunak seperti Turnitin atau Copyscape untuk mengecek tingkat kemiripan teks.
- Lolos Uji Similarity: Kutipan langsung yang terlalu banyak akan membuat skor plagiarisme Anda membengkak. Dengan parafrase, Anda menyajikan ide yang sama namun dengan struktur yang unik, sehingga mesin pendeteksi plagiasi akan menganggap tulisan Anda original.
- Etika Akademik: Parafrase yang dilakukan dengan benar (disertai sitasi) menunjukkan bahwa Anda menghormati hak intelektual orang lain tanpa harus menyalinnya secara buta.
B. Meningkatkan Keterbacaan (Readability)
Terkadang, sumber asli yang kita kutip menggunakan bahasa yang sangat teknis, kaku, atau menggunakan istilah-istilah kuno yang sulit dipahami oleh pembaca umum.
- Penyederhanaan Pesan: Melalui parafrase, Anda memiliki kebebasan untuk menerjemahkan istilah sulit tersebut menjadi bahasa yang lebih mengalir dan sesuai dengan gaya penulisan Anda.
- Penyesuaian Audiens: Anda bisa menyesuaikan penjelasan agar lebih relevan dengan target pembaca Anda, sehingga informasi yang rumit sekalipun bisa tersampaikan dengan efektif.
C. Menunjukkan Pemahaman Penulis
Menyalin teks secara langsung tidak membutuhkan pemikiran mendalam, namun memparafrase menuntut Anda untuk benar-benar mengerti apa yang dibaca.
- Proses Kognitif: Saat Anda memparafrase, otak Anda sedang memproses informasi, memahaminya, dan merumuskannya kembali. Ini adalah bukti kuat bagi pembimbing atau pembaca bahwa Anda bukan sekadar “pembaca pasif”, melainkan peneliti yang menguasai materi secara mendalam.
- Alur Tulisan yang Lebih Padu: Dengan memparafrase, Anda bisa menyatukan berbagai ide dari sumber yang berbeda ke dalam satu gaya bahasa yang konsisten, sehingga tulisan Anda tidak terasa seperti “potongan-potongan tempelan”.
Meskipun parafrase membantu Anda menghindari plagiarisme secara teknis (lolos mesin cek), Anda tetap harus memberikan penghargaan kepada penulis asli melalui sitasi agar terhindar dari plagiarisme ide.
Teknik dan Cara Melakukan Parafrase yang Benar
Melakukan parafrase bukan sekadar mengganti kata secara acak. Diperlukan teknik yang sistematis agar hasil tulisan Anda tetap mempertahankan makna asli namun memiliki struktur yang sepenuhnya baru. Berikut adalah langkah-langkah detailnya:
A. Metode Membaca Berulang (Deep Reading)
Sebelum Anda mulai mengetik, langkah pertama yang paling krusial adalah memahami konteks secara utuh.
- Memahami Esensi: Bacalah teks asli beberapa kali hingga Anda benar-benar menangkap pesan utama yang ingin disampaikan penulis.
- Tutup Teks Asli: Setelah paham, cobalah untuk menjauhkan atau menutup teks asli tersebut. Hal ini bertujuan agar otak Anda tidak terpaku pada susunan kalimat lama saat mulai menulis ulang.
B. Menggunakan Sinonim yang Tepat
Salah satu cara tercepat dalam parafrase adalah mengganti kata-kata kunci dengan padanan kata (sinonim) yang sesuai.
- Pilih Sinonim yang Kontekstual: Hati-hati dalam memilih sinonim; pastikan kata pengganti tersebut memiliki makna yang sama dalam konteks kalimat tersebut. Misalnya, kata “instrumen” dalam riset bisa diganti dengan “alat ukur”, namun tidak tepat jika diganti dengan “alat musik”.
- Hindari Penggunaan Sinonim Berlebihan: Jangan mengganti setiap kata, karena bisa membuat kalimat terasa aneh atau tidak alami.
C. Mengubah Struktur Kalimat
Mengubah cara kalimat disusun adalah kunci agar tulisan Anda lolos dari deteksi similarity yang ketat.
- Aktif ke Pasif (atau Sebaliknya): Jika teks asli berbunyi “Peneliti menyebarkan kuesioner kepada 100 responden,” Anda bisa mengubahnya menjadi “Kuesioner disebarkan kepada 100 responden oleh pihak peneliti.”
- Memecah atau Menggabungkan Kalimat: Anda bisa memecah satu kalimat panjang menjadi dua kalimat pendek, atau sebaliknya, untuk menciptakan alur yang berbeda namun tetap logis.
D. Mengubah Urutan Ide
Anda bisa menyajikan informasi dengan urutan yang berbeda dari teks aslinya, selama logika penyampaiannya tetap masuk akal.
- Restrukturisasi Poin: Jika sumber asli menyebutkan penyebab lalu akibat, Anda bisa mencoba menyajikannya dengan menyebutkan akibatnya terlebih dahulu, baru kemudian menjelaskan penyebabnya.
- Sudut Pandang Berbeda: Fokuslah pada bagian yang ingin Anda tonjolkan tanpa menghilangkan fakta-fakta pendukung lainnya.
E. Pentingnya Mencantumkan Sitasi (Sitasi Tetap Wajib)
Ini adalah kesalahan paling umum yang dilakukan penulis: menganggap bahwa karena kata-katanya sudah berubah, maka tidak perlu lagi mencantumkan sumber.
- Menghargai Intelektualitas: Meskipun struktur kalimat adalah milik Anda, ide atau datanya tetap milik penulis asli.
- Aturan Akademis: Pastikan Anda tetap menyertakan nama penulis dan tahun terbit (sesuai format APA, MLA, atau Harvard) di akhir atau di awal kalimat parafrase Anda. Tanpa sitasi, parafrase Anda tetap bisa dianggap sebagai plagiarisme ide.
Setelah selesai melakukan parafrase, bandingkan tulisan Anda dengan teks asli sekali lagi. Pastikan tidak ada frase unik yang masih sama persis dan pastikan makna informasinya tidak bergeser sedikit pun.
Contoh Parafrase: Sebelum dan Sesudah
Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana mengubah teks asli menjadi kalimat yang baru tanpa menghilangkan maknanya, mari kita simak beberapa contoh perbandingan di bawah ini:
Contoh 1: Tentang Etika Penulisan
Naskah Asli: “Sangatlah pelik untuk mendefinisikan plagiasi saat kalian melakukan ringkasan atau parafrase. Keduanya memang berbeda, tetapi batas-batas parafrase dan ringkasan sangatlah tipis sehingga kalian tidak menyadari jika kalian berpindah dari melakukan parafrase menjadi meringkas, kemudian berpindah ke melakukan plagiasi. Apapun tujuanmu, parafrase yang sangat mirip dengan naskah asli dianggap sebagai melakukan plagiasi, meskipun kalian telah menuliskan sumbernya.” (Booth et al., 2005, hlm 203).
Hasil Parafrase: Menurut Booth, Colomb, dan Williams (2005), penulis terkadang melakukan plagiasi tanpa mereka sadari. Hal ini sering terjadi karena mereka mengira sedang melakukan ringkasan, padahal mereka melakukan parafrase yang terlalu mirip dengan naskah asli. Aktivitas tersebut tetap dianggap sebagai plagiasi meskipun dilakukan tanpa sengaja dan sumber pustakanya telah dicantumkan (hlm 203).
Contoh 2: Tentang Kebiasaan Mengutip Mahasiswa
Naskah Asli: “Mahasiswa sering berlebihan dalam menggunakan kutipan langsung saat membuat catatan, sebagai akibatnya mereka menggunakan kutipan yang berlebihan dalam tugas karya ilmiah (paper). Mungkin hanya sekitar 10% dari manuskrip akhir yang diperbolehkan muncul dalam bentuk kutipan langsung. Oleh sebab itu, kalian harus berusaha untuk membatasi jumlah penulisan yang sama persis dengan materi sumber saat kalian menulis catatan.” (Lester, 1976, hlm 46-47).
Hasil Parafrase: Dalam menyusun karya ilmiah, mahasiswa cenderung mengutip secara berlebihan dan sering kali gagal mengolah materi tersebut ke dalam bahasa sendiri. Karena akar masalahnya ada pada proses pembuatan catatan, maka sangat penting bagi mahasiswa untuk meminimalkan pencatatan materi yang kata-katanya sama persis dengan sumber asli (Lester, hlm 46-47).
Contoh 3: Tentang Isu Kebijakan Publik
Naskah Asli: “Pemerintah akan mengaktifkan Bandara Halim Perdanakusuma sebagai bandara yang melayani penerbangan sipil. Selama ini, bandara ini hanya melayani penerbangan kenegaraan dan militer. Banyak sorotan terhadap rencana ini karena menganggap bahwa akan memperparah kemacetan sekitar bandara. Di sisi lain, rencana ini akan mengurangi kepadatan penerbangan yang melalui bandara Soekarno Hatta.”
Hasil Parafrase: Rencana pemerintah untuk membuka Bandara Halim Perdanakusuma bagi penerbangan sipil memicu pro dan kontra. Sebagian pihak merasa khawatir kebijakan ini akan meningkatkan kemacetan di area sekitar bandara. Namun, di sisi lain, langkah ini dipandang efektif untuk mengurai kepadatan jadwal penerbangan yang selama ini menumpuk di Bandara Soekarno Hatta.
Kesimpulan
Parafrase bukan sekadar keterampilan teknis dalam menulis, melainkan bentuk kecerdasan seorang penulis dalam mengolah informasi.
Dengan memahami bahwa parafrase adalah cara menyampaikan ulang ide dengan gaya bahasa sendiri, Anda tidak hanya terhindar dari risiko plagiarisme, tetapi juga menunjukkan bahwa Anda benar-benar memahami materi yang Anda tulis.
Ingatlah bahwa kunci dari parafrase yang sukses adalah menjaga keseimbangan antara orisinalitas kalimat dan kejujuran intelektual dengan tetap mencantumkan sitasi.
Dengan begitu, karya tulis Anda akan memiliki kredibilitas yang tinggi, baik di mata dosen, pembimbing, maupun mesin pencari seperti Google.
Ingin Melakukan Parafrase Secara Instan dan Akurat? Gunakan NulisKata!
Kami memahami bahwa melakukan parafrase secara manual pada puluhan sumber referensi membutuhkan waktu dan energi yang tidak sedikit. Untuk itulah NulisKata hadir sebagai pendamping setia proses kreatif Anda.
Sebagai platform AI writing tools terbaik di Indonesia, NulisKata menyediakan fitur Parafrase Online yang dirancang khusus untuk:
- Menghasilkan Tulisan yang Manusiawi: Dengan teknologi Humanize AI, hasil parafrase Anda tidak akan terasa kaku seperti terjemahan mesin, melainkan mengalir natural seperti tulisan manusia.
- Lolos Uji Plagiarisme: Bantu menurunkan similarity index secara signifikan sehingga tulisan Anda lebih aman saat dicek melalui Turnitin atau Copyscape.
- Efisiensi Waktu: Proses ribuan kata hanya dalam hitungan detik, memungkinkan Anda fokus pada analisis dan pengembangan ide penelitian.
- Multi-Fungsi: Selain parafrase, Anda juga bisa menggunakan fitur Summarize Online untuk meringkas jurnal dan Journal Search untuk mencari referensi pendukung judul riset Anda.
Jangan biarkan kendala bahasa dan struktur kalimat menghambat produktivitas Anda. Selesaikan skripsi, jurnal, atau artikel Anda dengan hasil yang lebih profesional bersama NulisKata.

Leave a Reply