Pernahkah Anda merasa ragu saat ingin mencantumkan ide dari sebuah buku atau jurnal ke dalam tulisan Anda? Di satu sisi, Anda ingin memperkuat argumen dengan referensi yang kredibel. Di sisi lain, ada bayang-bayang plagiarisme yang mengintai jika Anda salah dalam mengolah kalimat tersebut.
Dalam dunia penulisan baik itu skripsi, karya ilmiah, maupun artikel blog meminjam ide orang lain adalah hal yang lumrah. Namun, teknik “meminjam” ini tidak bisa dilakukan sembarangan.
Ada tiga teknik utama yang wajib dikuasai setiap penulis: Ringkasan, Kutipan, dan Parafrase.
Banyak orang menganggap ketiganya sama saja, padahal masing-masing memiliki fungsi, struktur, dan aturan main yang berbeda.
Menggunakan kutipan terlalu banyak bisa membuat tulisan Anda dianggap tidak orisinal, sementara melakukan parafrase yang terlalu mirip dengan aslinya bisa menjerumuskan Anda pada plagiarisme tidak sengaja.
Lantas, apa sebenarnya perbedaan mendasar antara ringkasan, kutipan, dan parafrase? Kapan waktu yang tepat untuk menggunakan salah satunya?
Artikel ini akan mengupas tuntas perbedaan ketiganya secara mendalam agar tulisan Anda tetap berkualitas, kredibel, dan yang terpenting: aman dari plagiarisme.
Baca Juga: Parafrase Adalah: Pengertian, Teknik, dan Contoh Lengkap
Apa Itu Ringkasan?
Ringkasan adalah penyajian kembali sebuah teks atau karangan yang panjang ke dalam bentuk yang jauh lebih singkat namun tetap mempertahankan urutan isi dan sudut pandang penulis aslinya.
Secara sederhana, meringkas berarti memangkas “lemak” tulisan dan hanya menyisakan “daging” atau inti sarinya saja.
Ringkasan bukan sekadar kumpulan potongan kalimat dari teks asli. Ini adalah proses menyaring gagasan utama (main ideas) dan poin-poin pendukung penting, lalu merangkainya kembali menjadi satu kesatuan yang koheren.
Panjang sebuah ringkasan biasanya hanya berkisar antara 10% hingga 25% dari panjang teks aslinya.
Kapan Anda Harus Menggunakan Ringkasan?
Teknik ini sangat efektif digunakan dalam kondisi berikut:
- Memberikan Gambaran Umum: Saat Anda ingin pembaca memahami isi sebuah buku, bab, atau jurnal ilmiah secara cepat tanpa mereka harus membaca seluruh halaman.
- Mengabaikan Detail Kecil: Ketika detail pendukung, contoh-contoh panjang, atau data statistik yang terlalu rinci dianggap tidak terlalu krusial bagi argumen tulisan Anda.
- Menyusun Tinjauan Pustaka: Digunakan untuk mengelompokkan beberapa pemikiran ahli yang memiliki kesimpulan serupa dalam satu paragraf pendek.
Ciri Khas Ringkasan yang Baik
Agar tidak terjebak menjadi opini atau ulasan (review), sebuah ringkasan harus memiliki karakteristik:
- Objektif: Anda tidak boleh menambahkan pendapat, kritik, atau interpretasi pribadi. Anda hanya melaporkan apa yang dikatakan penulis asli.
- Representatif: Tetap setia pada alur pikiran dan fokus utama sumber asli.
- Mandiri (Standalone): Meski singkat, pembaca harus bisa memahami pesan utama teks tersebut tanpa perlu melihat naskah aslinya.
- Tetap Menggunakan Sitasi: Walaupun menggunakan bahasa sendiri, ide tersebut bukan milik Anda. Oleh karena itu, mencantumkan sumber (nama penulis dan tahun) tetap merupakan kewajiban.
Apa Itu Kutipan? (The Exact Words)
Kutipan adalah teknik mengambil pernyataan dari sumber referensi secara identik atau persis sama dengan aslinya, kata demi kata, bahkan hingga tanda bacanya.
Dalam dunia akademik dan penulisan profesional, kutipan digunakan sebagai bukti autentik untuk memperkuat argumen penulis.
Berbeda dengan ringkasan atau parafrase yang melibatkan proses pengolahan kata, kutipan adalah proses “memindahkan” pemikiran orang lain ke dalam tulisan Anda tanpa mengubah satu huruf pun.
Karena sifatnya yang menyalin secara total, penggunaan kutipan harus dilakukan secara selektif agar tulisan Anda tidak dianggap sebagai kumpulan potongan teks orang lain.
Jenis-Jenis Kutipan
Secara teknis, kutipan dibagi menjadi dua kategori utama berdasarkan panjangnya:
- Kutipan Langsung Pendek: Biasanya terdiri dari tidak lebih dari 4 baris atau kurang dari 40 kata. Kutipan ini diintegrasikan langsung ke dalam paragraf dan wajib diapit oleh tanda kutip ganda (“…”). Contoh: Menurut Soekarno, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya.”
- Kutipan Langsung Panjang (Block Quote): Jika kutipan terdiri dari lebih dari 4 baris atau lebih dari 40 kata, maka penulisannya harus dipisahkan dari paragraf utama. Teks ditulis dalam blok tersendiri, masuk ke kanan (indentasi), dan biasanya menggunakan spasi tunggal tanpa perlu tanda kutip.
Kapan Anda Harus Menggunakan Kutipan?
Jangan terlalu sering mengutip secara langsung. Gunakanlah teknik ini hanya pada saat:
- Kata-kata Asli Sangat Kuat: Saat pernyataan penulis asli memiliki kekuatan retoris, keindahan bahasa, atau dampak emosional yang akan hilang jika diubah.
- Definisi Teknis atau Hukum: Saat Anda mengutip undang-undang, istilah medis, atau definisi ilmiah yang presisinya sangat krusial dan tidak boleh ada kesalahan interpretasi.
- Kredibilitas Tokoh (Otoritas): Saat Anda ingin meminjam “suara” seorang ahli yang sangat berwibawa di bidangnya untuk mendukung poin Anda.
- Analisis Teks: Saat Anda sedang membedah karya sastra (seperti puisi atau novel) atau pidato seseorang, sehingga pembaca perlu melihat teks aslinya.
Apa Itu Parafrase?
Parafrase adalah cara mengungkapkan kembali ide atau gagasan orang lain menggunakan kata-kata dan struktur kalimat Anda sendiri, tanpa mengubah makna aslinya. Jika kutipan adalah “copy-paste”, maka parafrase adalah “menceritakan kembali” dengan gaya bahasa Anda.
Dalam teknik parafrase, Anda mengambil pesan inti dari sebuah sumber, lalu merakitnya kembali agar selaras dengan alur tulisan Anda.
Hasil parafrase biasanya memiliki panjang yang hampir sama dengan teks aslinya, namun secara visual terlihat sangat berbeda karena diksi (pilihan kata) dan sintaksis (struktur kalimat) yang telah dirombak total.
Kapan Anda Harus Menggunakan Parafrase?
Parafrase adalah “senjata utama” bagi penulis blog dan akademisi. Gunakan teknik ini:
- Menghindari Plagiarisme: Ini adalah cara terbaik untuk mengambil referensi tanpa terdeteksi sebagai duplikasi konten oleh Google atau alat cek plagiarisme.
- Menyederhanakan Materi Sulit: Jika sumber asli menggunakan bahasa yang terlalu teknis, kaku, atau akademis, Anda bisa memparafrasekannya agar lebih mudah dipahami oleh pembaca blog Anda.
- Menjaga Alur Tulisan (Flow): Agar tulisan Anda tidak terputus-putus oleh banyak tanda kutip, parafrase membantu Anda tetap menggunakan “suara” atau gaya bicara Anda sendiri dari awal hingga akhir artikel.
Tips Melakukan Parafrase yang Aman & Benar
Melakukan parafrase bukan sekadar mengganti kata dengan sinonimnya. Berikut adalah cara yang benar:
- Ubah Struktur Kalimat: Jika sumber asli menggunakan kalimat aktif, cobalah ubah menjadi kalimat pasif, atau sebaliknya.
- Pahami, Lalu Tutup Sumbernya: Baca teks asli hingga Anda benar-benar paham, tutup bukunya/tab browsernya, lalu tuliskan apa yang Anda ingat. Ini menjamin Anda tidak akan sekadar meniru struktur kalimat aslinya.
- Gunakan Sinonim yang Tepat: Pastikan kata pengganti yang Anda pilih memiliki nuansa makna yang sama dalam konteks tersebut.
- Wajib Mencantumkan Sitasi: Ini adalah kesalahan umum. Meskipun kata-katanya 100% milik Anda, idenya tetap milik orang lain. Jadi, Anda tetap wajib menyebutkan sumbernya (Nama Penulis & Tahun).
Perbedaan Utama: Ringkasan, Kutipan, dan Parafrase
Setelah memahami definisinya, Anda mungkin masih bertanya-tanya: “Lalu, mana yang harus saya gunakan?”. Untuk menjawabnya, kita perlu melihat perbedaan mendasar dari tiga aspek utama berikut:
1. Teknik dan Panjang Tulisan
Perbedaan paling mencolok terlihat dari cara teks tersebut disusun dan hasil akhir panjang tulisannya:
- Ringkasan: Tekniknya adalah memangkas teks dan hanya mengambil inti sari (gagasan utama) tanpa menyertakan penjelasan tambahan. Hasilnya selalu jauh lebih pendek dari sumber aslinya.
- Kutipan: Tekniknya adalah menyalin secara identik. Panjangnya sama persis dengan bagian yang diambil.
- Parafrase: Tekniknya adalah menyampaikan ulang gagasan dengan bahasa sendiri secara utuh. Hasilnya bisa sama panjang, lebih pendek, atau bahkan lebih panjang jika tujuannya adalah untuk menjelaskan istilah ilmiah yang sulit menjadi lebih sederhana.
2. Tujuan dan Waktu Penerapan
Kapan saat terbaik menggunakan salah satu dari ketiganya?
- Ringkasan: Digunakan saat Anda berhadapan dengan karangan yang panjang atau bertele-tele. Tujuannya adalah untuk efisiensi, agar pembaca langsung mendapatkan poin penting secara singkat, padat, dan jelas.
- Kutipan: Digunakan saat Anda butuh kekuatan bukti hukum, definisi saklek, atau pernyataan tokoh yang tidak boleh diubah sedikit pun.
- Parafrase: Digunakan untuk menurunkan similarity index (skor plagiarisme) dan mengurangi penggunaan kutipan langsung. Parafrase juga diterapkan saat sumber asli dirasa terlalu rumit, sehingga perlu dijelaskan kembali dengan gaya bahasa yang lebih populer.
3. Kewajiban Melakukan Sitasi (Mencantumkan Sumber)
Banyak yang keliru di bagian ini, namun aturannya sangat tegas:
- Ringkasan: Jika dibuat untuk catatan pribadi agar mudah diingat, sitasi tidak wajib. Namun, jika ringkasan tersebut masuk ke dalam naskah karya ilmiah/artikel blog, sumber wajib dicantumkan di daftar pustaka atau catatan kaki.
- Kutipan: Wajib mencantumkan sumber secara detail, termasuk nama penulis, tahun, dan nomor halaman karena Anda menggunakan kata-kata orang lain secara langsung.
- Parafrase: Wajib mencantumkan sitasi. Meskipun susunan kalimatnya sudah berubah total dan menjadi milik Anda, ide atau gagasan di dalamnya tetap milik orang lain. Sitasi biasanya diletakkan di awal atau di akhir kalimat.
Contoh Parafrase dalam Berbagai Konteks
Untuk memberikan gambaran lebih jelas, berikut adalah beberapa contoh bagaimana mengubah naskah asli menjadi parafrase yang baik tanpa mengubah maknanya:
A. Contoh Parafrase 1: Konteks Akademik & Plagiarisme
Pada contoh ini, kita mengubah kalimat yang kompleks menjadi lebih mengalir namun tetap mempertahankan substansi ilmiahnya.
- Naskah Asli:
“Sangatlah pelik untuk mendefinisikan plagiasi saat kalian melakukan ringkasan atau parafrase. Keduanya memang berbeda, tetapi batas-batas parafrase dan ringkasan sangatlah tipis sehingga kalian tidak menyadari jika kalian berpindah dari melakukan parafrase menjadi meringkas, kemudian berpindah ke melakukan plagiasi.” (Booth et al., 2005, hlm 203). - Hasil Parafrase:
Menurut Booth, Colomb, dan Williams, penulis terkadang melakukan plagiasi tanpa mereka sadari. Hal ini terjadi karena mereka sering mengira sedang meringkas, padahal sebenarnya melakukan parafrase yang terlalu mirip dengan naskah asli. Aktivitas ini tetap dikategorikan sebagai plagiasi meskipun dilakukan tanpa sengaja dan sumbernya telah dicantumkan (hlm 203).
B. Contoh Parafrase 2: Konteks Tips Menulis (Lester)
Contoh ini menunjukkan bagaimana menyederhanakan saran teknis agar lebih mudah diikuti.
- Naskah Asli:
“Mahasiswa sering berlebihan dalam menggunakan kutipan langsung saat membuat catatan. Sebagai akibatnya, mereka menggunakan kutipan yang berlebihan dalam tugas karya ilmiah (paper). Mungkin hanya sekitar 10% dari manuskrip akhir yang diperbolehkan muncul dalam bentuk kutipan langsung.” (Lester, 1976: 46-47). - Hasil Parafrase:
Dalam penulisan paper ilmiah, mahasiswa cenderung mengutip secara berlebihan karena kegagalan dalam mengolah materi sumber saat tahap pencatatan. Mengingat batas maksimal kutipan langsung biasanya hanya 10%, sangat penting bagi mahasiswa untuk meminimalkan penyalinan kata demi kata dari sumber asli sejak awal riset (Lester 46-47).
C. Contoh Parafrase 3: Konteks Berita (Informasi Umum)
Contoh ini mengubah gaya penulisan berita yang kaku menjadi bahasa yang lebih bercerita.
- Naskah Asli:
“Pemerintah akan mengaktifkan Bandara Halim Perdanakusuma sebagai bandara yang melayani penerbangan sipil. Selama ini, bandara ini hanya melayani penerbangan kenegaraan dan militer. Banyak sorotan terhadap rencana ini karena dianggap akan memperparah kemacetan sekitar bandara.” - Hasil Parafrase:
Rencana pemerintah untuk membuka Bandara Halim Perdanakusuma bagi penerbangan sipil menuai beragam tanggapan. Meski bandara yang sebelumnya khusus untuk militer dan tamu negara ini diharapkan bisa memecah kepadatan jadwal terbang, masyarakat mengkhawatirkan dampaknya terhadap kemacetan lalu lintas di area sekitarnya.
Baca Juga: 10+ Rekomendasi Writing Tools untuk Penulis Jadi Lebih Produktif
Contoh Kutipan dalam Karya Tulis
Berbeda dengan parafrase, kutipan harus menyalin teks asli secara identik. Namun, cara penulisannya dibedakan menjadi dua berdasarkan panjang kalimatnya. Berikut adalah contoh penerapannya:
A. Contoh Kutipan Langsung Pendek
Kutipan pendek adalah kutipan yang terdiri dari kurang dari 4 baris atau kurang dari 40 kata. Kutipan ini dimasukkan langsung ke dalam paragraf dan wajib menggunakan tanda kutip.
- Naskah Asli: “Pendidikan adalah senjata paling mematikan di dunia, karena dengan pendidikan, Anda bisa mengubah dunia.” (Nelson Mandela).
- Cara Menulis di Blog/Karya Ilmiah: Nelson Mandela pernah menekankan pentingnya literasi dengan menyatakan bahwa, “Pendidikan adalah senjata paling mematikan di dunia, karena dengan pendidikan, Anda bisa mengubah dunia” (Mandela, 2003).
B. Contoh Kutipan Langsung Panjang (Block Quote)
Jika Anda mengutip lebih dari 4 baris atau lebih dari 40 kata, kutipan tersebut tidak boleh digabung dalam paragraf, melainkan dibuat menjadi blok teks tersendiri.
- Contoh Penulisan: Mengenai etika dalam mencatat referensi, Lester (1976) memberikan peringatan serius bagi para peneliti:
Mahasiswa sering berlebihan dalam menggunakan kutipan langsung saat membuat catatan, sebagai akibatnya mereka menggunakan kutipan yang berlebihan dalam tugas karya ilmiah. Mungkin hanya sekitar 10% dari manuskrip akhir yang diperbolehkan muncul dalam bentuk kutipan langsung. Oleh sebab itu, kalian harus berusaha untuk membatasi jumlah penulisan yang sama persis. (hlm. 46-47)
C. Contoh Kutipan dengan Kesalahan pada Sumber (Penggunaan [sic])
Jika Anda menemukan kesalahan ejaan pada sumber asli namun tetap harus mengutipnya secara identik, Anda bisa menggunakan simbol [sic].
- Contoh: “Pemerintah akan segera meresmikan bandara internasioanal [sic] tersebut pada akhir tahun ini.”
Baca Juga: Cara Menulis Essay yang Baik & Benar: Struktur, Tahapan, dan Tips
Contoh Ringkasan dalam Penulisan
Meringkas bertujuan untuk efisiensi. Di sini, kita tidak menjelaskan detailnya, melainkan hanya menyampaikan kesimpulan akhir atau gagasan utamanya saja.
Mari kita lihat perbandingannya dengan naskah asli:
A. Contoh Ringkasan 1: Topik Plagiarisme
- Naskah Asli: “Sangatlah pelik untuk mendefinisikan plagiasi saat kalian melakukan ringkasan atau parafrase. Keduanya memang berbeda, tetapi batas-batas parafrase dan ringkasan sangatlah tipis sehingga kalian tidak menyadari jika kalian berpindah dari melakukan parafrase menjadi meringkas, kemudian berpindah ke melakukan plagiasi. Apapun tujuanmu, parafrase yang sangat mirip dengan naskah asli dianggap sebagai melakukan plagiasi.” (Booth et al., 2005).
- Hasil Ringkasan: Batas antara ringkasan dan parafrase sangatlah tipis, sehingga seseorang rentan melakukan plagiasi tanpa sengaja jika hasil tulisannya masih terlalu mirip dengan sumber asli.
B. Contoh Ringkasan 2: Topik Akademik (Lester)
- Naskah Asli: “Mahasiswa sering berlebihan dalam menggunakan kutipan langsung saat membuat catatan, sebagai akibatnya mereka menggunakan kutipan yang berlebihan dalam tugas karya ilmiah (paper). Mungkin hanya sekitar 10% dari manuskrip akhir yang diperbolehkan muncul dalam bentuk kutipan langsung. Oleh sebab itu, kalian harus berusaha untuk membatasi jumlah penulisan yang sama persis dengan materi sumber.” (Lester, 1976).
- Hasil Ringkasan: Mahasiswa disarankan membatasi penggunaan kutipan langsung dalam karya ilmiah dan lebih banyak mengolah materi dengan bahasa sendiri agar tidak melampaui batas maksimal 10%.
C. Contoh Ringkasan 3: Topik Berita Umum
- Naskah Asli: “Pemerintah akan mengaktifkan Bandara Halim Perdanakusuma sebagai bandara yang melayani penerbangan sipil. Selama ini, bandara ini hanya melayani penerbangan kenegaraan dan militer. Banyak sorotan terhadap rencana ini karena menganggap bahwa akan memperparah kemacetan sekitar bandara. Di sisi lain, rencana ini akan mengurangi kepadatan penerbangan yang melalui bandara Soekarno Hatta.”
- Hasil Ringkasan: Rencana pengaktifan Bandara Halim untuk penerbangan sipil bertujuan mengurangi beban Bandara Soekarno-Hatta, namun menuai kritik karena potensi kemacetan di area sekitar.
Memahami perbedaan ringkasan, kutipan, dan parafrase bukan hanya soal teknis penulisan, tetapi juga tentang etika dan integritas Anda sebagai penulis. Nah itulah informasi seputar perbedaan ringkasan, kutipan, dan parafrase yang bisa Anda pahami.
Ingin Melakukan Parafrase Secara Instan dan Akurat? Gunakan NulisKata!
Kami memahami bahwa melakukan parafrase secara manual pada puluhan sumber referensi membutuhkan waktu dan energi yang tidak sedikit. Untuk itulah NulisKata hadir sebagai pendamping setia proses kreatif Anda.
Sebagai platform AI writing tools terbaik di Indonesia, NulisKata menyediakan fitur Parafrase Online yang dirancang khusus untuk:
- Menghasilkan Tulisan yang Manusiawi: Dengan teknologi Humanize AI, hasil parafrase Anda tidak akan terasa kaku seperti terjemahan mesin, melainkan mengalir natural seperti tulisan manusia.
- Lolos Uji Plagiarisme: Bantu menurunkan similarity index secara signifikan sehingga tulisan Anda lebih aman saat dicek melalui Turnitin atau Copyscape.
- Efisiensi Waktu: Proses ribuan kata hanya dalam hitungan detik, memungkinkan Anda fokus pada analisis dan pengembangan ide penelitian.
- Multi-Fungsi: Selain parafrase, Anda juga bisa menggunakan fitur Summarize Online untuk meringkas jurnal dan Journal Search untuk mencari referensi pendukung judul riset Anda.
Jangan biarkan kendala bahasa dan struktur kalimat menghambat produktivitas Anda. Selesaikan skripsi, jurnal, atau artikel Anda dengan hasil yang lebih profesional bersama NulisKata.

Leave a Reply