Dalam dunia riset ilmiah, penelitian empiris merupakan salah satu pendekatan paling fundamental yang mengedepankan fakta dan data objektif.
Berbeda dengan penelitian konseptual yang bersifat abstrak, penelitian empiris menuntut peneliti untuk “turun langsung ke lapangan” guna mengumpulkan bukti nyata berdasarkan pengalaman atau observasi. Konsep dasarnya mungkin sudah sering kita dengar: bahwa kebenaran ilmiah harus dibuktikan secara faktual, bukan sekadar teori di atas kertas.
Namun, memahami definisi saja tidak cukup untuk memulai sebuah riset yang sukses. Seorang peneliti baik itu mahasiswa penyusun skripsi maupun akademisi seringkali dihadapkan pada pertanyaan krusial: Bagaimana cara saya mengumpulkan data empiris tersebut?
Tidak semua data bisa diukur dengan angka, dan tidak semua fenomena bisa dijelaskan dengan statistik. Di sinilah pemahaman tentang jenis penelitian empiris menjadi sangat vital.
Tanpa memilih jenis penelitian yang tepat, riset Anda berisiko menghasilkan data yang tidak valid atau bahkan menyimpang dari masalah awal.
Pasalnya, penelitian empiris bukanlah satu metode tunggal yang kaku. Ia memiliki berbagai klasifikasi yang disesuaikan dengan tujuan, pendekatan data, hingga waktu penelitian.
Lalu, apa saja macam-macam penelitian empiris yang perlu Anda ketahui? Artikel ini akan mengupas tuntas klasifikasi jenis-jenis penelitian empiris, mulai dari pendekatan kualitatif, kuantitatif, hingga contoh penerapannya dalam studi kasus.
Tujuannya, agar Anda bisa menentukan strategi riset yang paling tepat untuk topik penelitian Anda. Simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.
Baca Juga: Penelitian Empiris dan Normatif: Perbedaan, Contoh, & Karakteristik
Klasifikasi Jenis Penelitian Empiris Berdasarkan Pendekatan
Ketika berbicara tentang penelitian empiris, klasifikasi paling mendasar dan paling sering digunakan adalah berdasarkan pendekatan analisis datanya. Pilihan klasifikasi ini akan menentukan seluruh arah penelitian Anda, mulai dari teknik pengumpulan data hingga cara menyimpulkan hasilnya. Secara garis besar, penelitian empiris dibagi menjadi tiga kategori utama: Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed Methods.
Berikut adalah penjelasan lengkap masing-masing jenis:
1. Penelitian Empiris Kualitatif
Penelitian empiris kualitatif adalah jenis penelitian yang mengandalkan data non-numerik (bukan angka). Fokus utamanya adalah memahami fenomena secara mendalam dari sudut pandang subjek penelitian. Alih-alih mengukur “berapa banyak”, penelitian ini lebih berusaha menjawab “mengapa” dan “bagaimana”.
- Karakteristik Utama:
- Data Deskriptif: Hasil penelitian berupa kata-kata, kutipan, gambar, atau deskripsi perilaku, bukan statistik.
- Proses Induktif: Peneliti mengumpulkan data spesifik terlebih dahulu, lalu menarik kesimpulan umum (teori) dari data tersebut.
- Naturalistik: Penelitian dilakukan pada kondisi alamiah (natural setting) tanpa manipulasi atau perlakuan khusus.
Kapan Menggunakannya?
- Jenis ini sangat tepat digunakan ketika masalah penelitian Anda belum banyak diteliti sebelumnya, atau ketika Anda ingin mengeksplorasi makna di balik suatu perilaku sosial.
- Contoh: Penelitian tentang “Pengalaman Psikologis Tenaga Medis dalam Menangani Pandemi”. Di sini, Anda tidak mencari angka persentase stres, melainkan menggali curhatan dan perasaan mendalam para medis tersebut melalui wawancara.
2. Penelitian Empiris Kuantitatif
Berkebalikan dengan kualitatif, penelitian empiris kuantitatif menekankan pada pengukuran objektif melalui angka dan analisis statistik. Jenis ini sering dianggap sebagai penelitian empiris yang paling “kuat” secara bukti karena menggunakan data konkret yang bisa diukur.
- Karakteristik Utama:
- Data Numerik: Data berupa angka yang kemudian diolah menggunakan rumus statistik (misalnya SPSS, R, atau Excel).
- Proses Deduktif: Peneliti sudah memiliki hipotesis atau teori di awal, lalu menguji kebenarannya melalui pengumpulan data di lapangan.
- Generalisasi: Hasil penelitian seringkali digeneralisasikan untuk populasi yang lebih luas, selama sampel sudah representatif.
Kapan Menggunakannya?
- Gunakan pendekatan ini ketika Anda ingin menguji hubungan antar variabel (korelasi) atau melihat pengaruh sebab-akibat (kausalitas) yang membutuhkan pembuktian matematis.
- Contoh: Penelitian tentang “Pengaruh Motivasi Kerja terhadap Kinerja Karyawan”. Anda akan menyebarkan kuesioner skala Likert, mengubah jawaban menjadi angka, lalu menghitung korelasinya.
3. Penelitian Empiris Mixed Methods
Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, banyak peneliti merasa bahwa hanya menggunakan satu pendekatan saja tidak cukup untuk menjawab masalah yang kompleks. Maka, digunakanlah Mixed Methods (Metode Campuran).
- Karakteristik Utama:
- Menggabungkan unsur kualitatif dan kuantitatif dalam satu studi.
- Memungkinkan triangulasi data, yaitu membandingkan hasil data angka dengan data wawancara untuk mendapatkan validitas yang lebih tinggi.
Kapan Menggunakannya?
- Ketika Anda ingin mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif. Misalnya, Anda ingin tahu seberapa puas pelanggan (Kuantitatif), sekaligus ingin tahu alasan detail di balik kepuasan tersebut (Kualitatif).
Jenis Penelitian Empiris Berdasarkan Tujuannya
Selain dibedakan dari pendekatan datanya, penelitian empiris juga diklasifikasikan berdasarkan tujuan yang ingin dicapai. Klasifikasi ini sangat membantu peneliti dalam merumuskan masalah. Apakah Anda hanya ingin tahu gambaran umum suatu fenomena, atau ingin membuktikan hubungan sebab-akibat?
Berikut adalah tiga jenis penelitian empiris berdasarkan tujuannya:
1. Penelitian Eksploratif (Explorative Research)
Penelitian eksploratif adalah jenis penelitian yang dilakukan untuk mengeksplorasi atau menjelajahi masalah yang belum banyak dikenal atau belum banyak diteliti sebelumnya. Sifatnya seperti “pionir” yang membuka jalan baru.
- Karakteristik:
- Biasanya tidak memiliki hipotesis yang pasti di awal karena masalahnya masih samar.
- Fokus pada pencarian ide, wawasan, atau pemahaman awal.
- Seringkali menggunakan pendekatan kualitatif.
- Tujuan Utama: Untuk memahami “apa” yang sebenarnya terjadi dan menghasilkan hipotesis untuk penelitian selanjutnya.
- Contoh Kasus: Seorang peneliti ingin meneliti fenomena baru “Kecanduan Game Metaverse di Kalangan Remaja”. Karena topiknya masih baru, ia melakukan wawancara mendalam tanpa memiliki hipotesis awal, murni untuk mengeksplorasi dampak dan perilakunya.
2. Penelitian Deskriptif (Descriptive Research)
Jika eksploratif adalah mencari tahu “apa”, maka penelitian deskriptif bertujuan untuk melukiskan atau mendeskripsikan “bagaimana”. Jenis ini sangat populer dan sering digunakan dalam skripsi mahasiswa karena relatif lebih mudah dieksekusi.
- Karakteristik:
- Tidak menguji hubungan atau pengaruh antar variabel, melainkan menggambarkan kondisi variabel itu sendiri (berdiri sendiri).
- Hasilnya berupa gambaran sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta di lapangan.
- Bisa menggunakan pendekatan kualitatif maupun kuantitatif.
- Tujuan Utama: Memperoleh gambaran objektif tentang keadaan suatu populasi atau fenomena pada saat ini.
- Contoh Kasus: “Analisis Tingkat Kepuasan Mahasiswa terhadap Fasilitas Perpustakaan Kampus X”. Peneliti hanya mendeskripsikan persentase kepuasan (puas/tidak puas) tanpa menguji apakah kepuasan tersebut dipengaruhi oleh jumlah buku atau suhu ruangan.
3. Penelitian Eksplanatori (Explanatory Research)
Penelitian eksplanatori (sering juga disebut penelitian kausal) adalah tingkatan tertinggi yang menjelaskan hubungan sebab-akibat (kausalitas) antar variabel. Ini biasanya digunakan untuk menguji teori.
- Karakteristik:
- Bertujuan menjelaskan posisi variabel independen (bebas) terhadap variabel dependen (terikat).
- Wajib memiliki hipotesis yang akan diuji kebenarannya.
- Umumnya menggunakan pendekatan kuantitatif.
- Tujuan Utama: Menjawab pertanyaan “mengapa” fenomena tersebut terjadi dan membuktikan apakah variabel X benar-benar mempengaruhi variabel Y.
- Contoh Kasus: “Pengaruh Harga dan Promosi terhadap Keputusan Pembelian Produk Z”. Di sini, peneliti ingin membuktikan secara empiris bahwa harga (sebab) berpengaruh signifikan terhadap keputusan beli (akibat).
Tips Memilih Jenis Penelitian Empiris yang Tepat
Setelah mengetahui berbagai klasifikasi di atas, pertanyaan besar yang mungkin muncul di benak Anda adalah: “Lalu, mana yang seharusnya saya pilih untuk riset saya?” Memilih jenis penelitian bukan tentang mana yang “paling bagus”, tetapi mana yang “paling tepat” untuk menjawab masalah penelitian Anda.
Berikut adalah beberapa tips strategis untuk membantu Anda menentukan pilihan:
1. Identifikasi Masalah dan Pertanyaan Penelitian Anda
Langkah pertama dan paling krusial adalah melihat kembali ke akar masalah. Rumusan masalah Anda akan menentukan jenis penelitian yang cocok.
- Jika Anda masih bingung tentang fenomena apa yang terjadi dan ingin mencari tahu lebih dalam (misalnya: “Apa saja bentuk perlawanan karyawan terhadap aturan baru ini?”), maka Penelitian Eksploratif dengan pendekatan Kualitatif adalah pilihannya.
- Jika Anda ingin tahu kondisi terkini secara umum (misalnya: “Bagaimana tingkat kedisiplinan siswa di sekolah X?”), maka Penelitian Deskriptif sudah cukup.
- Jika Anda ingin membuktikan dugaan atau pengaruh (misalnya: “Apakah gaya kepemimpinan mempengaruhi kinerja?”), maka Anda wajib menggunakan Penelitian Eksplanatori (Kausalitas).
2. Pertimbangkan Sumber Daya (Waktu, Biaya, dan Tenaga)
Faktor praktis ini sering kali menjadi alasan utama mahasiswa mengganti judul atau metodologi.
- Penelitian Kuantitatif cenderung lebih cepat dalam pengolahan data jika sampel tidak terlalu besar, namun membutuhkan biaya tinggi jika sampel sangat banyak (misalnya survei nasional).
- Penelitian Kualitatif secara sampel lebih hemat (bisa 1-5 orang saja), namun memakan waktu yang sangat lama dalam proses analisis data (mentranskrip wawancara, mengoding, dll).
- Penelitian Longitudinal (waktu panjang) jelas membutuhkan komitmen waktu bertahun-tahun, sehingga kurang cocok untuk riset dengan deadline ketat seperti skripsi S1.
3. Evaluasi Kedalaman Data yang Dibutuhkan
Pertimbangkan seberapa dalam data yang Anda butuhkan.
- Jika Anda membutuhkan data yang luas dan bisa digeneralisasi ke populasi besar, Pendekatan Kuantitatif adalah jawabannya. Hasilnya bersifat objektif dan bisa diprediksi.
- Jika Anda membutuhkan data yang mendalam, detail, dan kontekstual (misalnya ingin memahami emosi, motivasi, atau budaya), maka Pendekatan Kualitatif memberikan “kedalaman” yang tidak bisa diberikan oleh angka.
4. Cek Literatur dan Penelitian Terdahulu
Sebelum memutuskan, cek terlebih dahulu penelitian sejenis yang sudah ada.
- Jika penelitian terdahulu sudah banyak yang membahas secara kuantitatif dan menghasilkan angka, mungkin Anda bisa memberikan perspektif baru dengan pendekatan Kualitatif untuk melihat sisi lain yang belum terungkap.
- Sebaliknya, jika penelitian terdahulu bersifat teori atau kualitatif, Anda bisa mengambil peran menguji kebenarannya secara empiris dengan Pendekatan Kuantitatif.
Memahami jenis penelitian empiris adalah langkah awal yang menentukan keberhasilan sebuah riset ilmiah.
Baik itu pendekatan kualitatif yang mendalam, kuantitatif yang terukur, hingga tujuan eksploratif, deskriptif, maupun eksplanatori setiap jenis memiliki peran strategis dalam memecahkan masalah penelitian.
Tidak ada metode yang mutlak lebih baik; yang ada adalah metode yang paling relevan dengan rumusan masalah, sumber daya, dan kedalaman data yang Anda butuhkan.
Pada akhirnya, validitas data empiris sangat bergantung pada seberapa konsisten Anda menerapkan metodologi tersebut.
Dengan memilih klasifikasi yang tepat, Anda tidak hanya memenuhi standar akademis, tetapi juga memastikan bahwa temuan penelitian Anda memberikan kontribusi nyata terhadap ilmu pengetahuan.
Permudah Proses Penulisan Penelitian Anda Dengan NulisKata
Menentukan jenis penelitian mungkin sudah terbayang, namun tantangan sesungguhnya seringkali ada pada proses penulisan dan pengolahan data teks.
Mulai dari merangkai review literatur, membuat ringkasan jurnal referensi, hingga menulis laporan hasil analisis membutuhkan waktu dan energi yang tidak sedikit.
Jika Anda ingin menghemat waktu dan meningkatkan kualitas tulisan riset Anda, cobalah manfaatkan teknologi. Nuliskata adalah Platform AI writing tools lengkap yang dirancang khusus untuk membantu kebutuhan penulisan Anda. Tersedia fitur parafrase online untuk menghindari plagiarisme, summarizer untuk merangkum jurnal asing, translator yang akurat, humanizer agar teks AI terasa lebih natural, dan AI writer untuk membantu drafting.
Tingkatkan produktivitas menulismu sekarang dan biarkan Nuliskata menjadi asisten terbaik dalam perjalanan riset ilmiah Anda.

Leave a Reply