Apa Itu Variabel Penelitian Kualitatif? Simak Contoh & Penjelasannya

Apa Itu Variabel Penelitian Kualitatif? Simak Contoh & Penjelasannya

Pernahkah Anda merasa bingung saat ditanya oleh dosen pembimbing, “Apa variabel penelitianmu?”, padahal Anda sedang menyusun penelitian kualitatif?

Di dunia akademik, istilah “variabel” memang sering kali menjadi sumber kerancuan, terutama bagi peneliti pemula yang terbiasa dengan logika penelitian kuantitatif yang serba terukur.

Secara teknis, variabel identik dengan sesuatu yang bisa diukur, dihitung, dan dikorelasikan seperti dalam rumus Variabel X dan Variabel Y. 

Namun, dalam metode penelitian kualitatif, sifat data yang kita cari adalah narasi, makna, dan pengalaman mendalam.

Hal ini memunculkan pertanyaan besar: Apakah dalam penelitian kualitatif sebenarnya ada variabel?

Jawabannya: Ada, namun perspektifnya berbeda.

Dalam ranah kualitatif, variabel lebih tepat disebut sebagai fokus penelitian atau konsep sentral. Di sini, kita tidak membedah fenomena menjadi angka-angka statistik, melainkan mencoba memahami fenomena tersebut secara utuh dan mendalam dalam konteks alaminya.

Memahami cara menentukan “variabel” atau fokus penelitian kualitatif adalah langkah krusial. Tanpa batasan yang jelas, riset Anda berisiko menjadi terlalu luas dan kehilangan arah. 

Artikel ini akan memandu Anda memahami apa itu variabel dalam konteks kualitatif, bagaimana perbedaannya dengan kuantitatif, hingga cara praktis menentukannya untuk kebutuhan Bab 1 dan Bab 3 penelitian Anda.

Apa Itu Variabel dalam Penelitian Kualitatif?

Secara etimologis, “variabel” berasal dari kata vary (berubah) dan able (dapat), yang berarti sesuatu yang memiliki nilai bervariasi. 

Dalam dunia penelitian, istilah ini awalnya lahir dari tradisi kuantitatif untuk menyebut atribut yang bisa diukur dengan angka, seperti tinggi badan, pendapatan, atau skor ujian.

Namun, dalam penelitian kualitatif, variabel dipahami dalam konteks yang jauh lebih luas.

Variabel kualitatif adalah atribut, kualitas, atau sifat dari seseorang, objek, atau kegiatan yang memiliki variasi tertentu tetapi tidak untuk diukur secara statistik, melainkan untuk dieksplorasi maknanya.

Variabel sebagai “Fokus Penelitian”

Banyak ahli metodologi lebih suka menggunakan istilah “Fokus Penelitian” atau “Konsep” daripada variabel dalam desain kualitatif. Mengapa? Karena dalam kualitatif, peneliti tidak datang ke lapangan dengan definisi variabel yang kaku.

Sebagai contoh, jika Anda meneliti “Loyalitas Pelanggan”:

  • Di Kuantitatif: Anda mengukur loyalitas dengan angka 1-5 berdasarkan kuesioner.
  • Di Kualitatif: Anda mencari tahu mengapa pelanggan tersebut setia, bagaimana perasaan mereka terhadap brand, dan apa cerita di balik kesetiaan mereka.

Karakteristik Variabel Penelitian Kualitatif yang Membedakannya dari Kuantitatif

Memahami karakteristik variabel dalam penelitian kualitatif sangat penting agar Anda tidak terjebak dalam pola pikir kuantitatif. 

Karena tujuannya adalah memahami fenomena secara mendalam, variabel dalam riset kualitatif memiliki sifat-sifat unik sebagai berikut:

1. Bersifat Dinamis dan Berkembang (Emergent Design)

Dalam penelitian kuantitatif, variabel harus didefinisikan secara operasional dan kaku sebelum turun ke lapangan. Namun, dalam kualitatif, variabel bersifat dinamis. Artinya, definisi atau fokus variabel Anda bisa berubah, bergeser, atau bahkan bertambah seiring dengan temuan baru yang Anda dapatkan dari informan.

  • Contoh: Di awal Anda ingin meneliti “budaya kerja”, namun di lapangan Anda menemukan bahwa “konflik antar-generasi” jauh lebih dominan. Anda boleh menggeser variabel fokus Anda ke arah tersebut.

2. Sangat Terikat dengan Konteks (Contextual)

Variabel kualitatif tidak bisa dilepaskan dari situasi, tempat, dan waktu penelitian dilakukan. Makna sebuah konsep bagi informan di lokasi A bisa jadi sangat berbeda dengan informan di lokasi B.

  • Poin Penting: Peneliti kualitatif percaya bahwa kebenaran itu bersifat lokal dan spesifik. Jadi, variabel “kepuasan kerja” di perusahaan startup tentu memiliki indikator alami yang berbeda dengan di instansi pemerintahan.

3. Bersifat Holistik (Menyeluruh)

Penelitian kualitatif tidak memandang variabel secara terisolasi atau terpisah-pisah. Jika dalam kuantitatif kita memilah-milah variabel (seperti variabel X mempengaruhi Y), dalam kualitatif kita melihat fenomena secara holistik.

  • Cara Pandang: Anda akan melihat bagaimana faktor budaya, ekonomi, sosial, dan psikologis saling berkelindan membentuk satu fenomena yang Anda teliti. Semua variabel dipandang sebagai satu kesatuan yang saling berinteraksi.

4. Bentuk Data Non-Numerik (Kekayaan Deskripsi)

Ini adalah perbedaan paling mencolok. Variabel kualitatif diukur bukan dengan angka atau skor, melainkan melalui kedalaman deskripsi. Data yang dikumpulkan untuk menjelaskan variabel tersebut berupa:

  • Transkrip wawancara (apa yang dikatakan orang).
  • Catatan lapangan/observasi (apa yang dilakukan orang).
  • Dokumentasi (foto, arsip, atau video).
  • Artefak (benda-benda yang terkait dengan fokus penelitian).

5. Fokus pada Proses, Bukan Hasil Akhir

Karakteristik variabel kualitatif selalu mengarah pada “bagaimana” sesuatu terjadi. Peneliti lebih tertarik mengamati proses perubahan atau pembentukan makna daripada sekadar melihat angka akhir dari sebuah variabel.

Apakah Ada Variabel X dan Y dalam Penelitian Kualitatif?

Banyak peneliti pemula merasa bingung dan bertanya: “Bolehkan saya menggunakan variabel X dan Y dalam judul kualitatif?”. Jawabannya secara metodologis adalah tidak disarankan.

Penggunaan istilah Variabel X dan Y adalah ciri khas penelitian kuantitatif yang menguji hubungan sebab-akibat (kausalitas).

Menepis Mitos: Mengapa X dan Y Tidak Cocok untuk Kualitatif?

Dalam penelitian kuantitatif, kita mencoba membuktikan apakah X mempengaruhi Y secara statistik. Namun, penelitian kualitatif memiliki paradigma yang sangat berbeda.

  1. Sifatnya Tidak Linear: Kuantitatif cenderung linear (A menyebabkan B). Kualitatif melihat dunia sebagai sesuatu yang kompleks dan saling terkait.
  2. Menghindari Reduksionisme: Jika Anda hanya memfokuskan pada “X terhadap Y”, Anda akan mengabaikan faktor Z, W, dan faktor-faktor tersembunyi lainnya yang sebenarnya sangat kaya untuk digali dalam kualitatif.
  3. Bukan Menguji, Tapi Menemukan: Kualitatif bertujuan untuk menemukan teori atau pemahaman baru, bukan menguji apakah variabel X memiliki pengaruh signifikan terhadap Y.

Penjelasan Logis: Pendekatan Holistik

Kualitatif bersifat holistik (menyeluruh). Alih-alih memecah masalah menjadi potongan-potongan variabel yang kaku, peneliti kualitatif melihat bagaimana berbagai aspek (mari kita sebut saja konsep A, B, dan C) saling berinteraksi dalam satu konteks tertentu.

Sebagai contoh, jika Anda meneliti “Keberhasilan Belajar Siswa di Pelosok”:

  • Kuantitatif: Fokus pada apakah “Fasilitas (X)” mempengaruhi “Nilai (Y)”.
  • Kualitatif: Anda akan melihat bagaimana fasilitas, peran orang tua, motivasi diri, hingga budaya lokal saling berkelindan membentuk makna “keberhasilan” bagi mereka.
variable penelitian kualitatif

Perbandingan Variabel: Kualitatif vs Kuantitatif

Untuk memudahkan Anda memahami perbedaannya, silakan perhatikan tabel perbandingan di bawah ini:

Aspek PerbandinganPenelitian KuantitatifPenelitian Kualitatif
Istilah UtamaVariabel (Independen & Dependen)Fokus Penelitian / Konsep Sentral
Sifat HubunganKausalitas (Sebab-Akibat) yang kakuInteraktif dan Timbal Balik
TujuanMenguji hubungan antar variabelMengeksplorasi makna dan fenomena
PengukuranNumerik (Angka, Skor, Statistik)Naratif (Kata-kata, Deskripsi, Cerita)
DefinisiOperasional (Sudah ditentukan di awal)Konseptual (Bisa berkembang di lapangan)

Jika Anda sedang menyusun skripsi kualitatif, jangan memaksakan adanya variabel X dan Y. 

Sebutkan saja Fokus Penelitian Anda. Hal ini justru menunjukkan bahwa Anda memahami metodologi dengan benar di mata dosen penguji.

Contoh Variabel Penelitian Kualitatif (Fokus Penelitian)

Dalam penelitian kualitatif, variabel sering kali disebut sebagai konstruk atau fenomena. Di sini, variabel tidak diperlakukan sebagai entitas yang statis, melainkan sebagai sesuatu yang hidup dan bermakna. 

Perhatikan bagaimana fokus penelitian di bawah ini bekerja tanpa melibatkan angka:

1. Bidang Pendidikan: Strategi Guru & Manajemen Kelas

  • Judul: “Strategi Guru dalam Mengatasi Bullying di SD Negeri 01 Jakarta.”
  • Variabel (Fokus): Strategi Penanganan Bullying.
  • Penjelasan Mendalam: Dalam konteks kualitatif, Anda tidak menguji apakah strategi A lebih baik dari strategi B secara statistik. Sebaliknya, Anda membedah “Isi” dari strategi tersebut.
    • Data yang Digali: Bagaimana guru melakukan pendekatan persuasif kepada pelaku, bagaimana bentuk perlindungan terhadap korban, dan bagaimana guru membangun atmosfir kelas yang inklusif.
    • Hasil yang Diharapkan: Sebuah model atau pola penanganan bullying yang bisa dijadikan referensi oleh sekolah lain.

2. Bidang Pemasaran & Bisnis: Studi Perilaku Konsumen

  • Judul: “Persepsi Konsumen Gen Z terhadap Branding Ramah Lingkungan pada Produk Kosmetik X.”
  • Variabel (Fokus): Persepsi dan Makna Branding Ramah Lingkungan.
  • Penjelasan Mendalam: Variabel kualitatif di sini adalah “isi kepala” konsumen. Peneliti ingin tahu apakah label eco-friendly dianggap jujur atau sekadar greenwashing.
    • Data yang Digali: Emosi konsumen saat melihat kemasan daur ulang, tingkat kepercayaan mereka terhadap klaim perusahaan, dan alasan mengapa mereka mau membayar lebih mahal untuk produk tersebut.
    • Hasil yang Diharapkan: Pemahaman mendalam tentang nilai-nilai (values) yang dianut Gen Z dalam berbelanja.

3. Bidang Psikologi & Sosial: Dinamika Kehidupan

  • Judul: “Dinamika Resiliensi pada Ibu Tunggal (Single Parent) yang Menjadi Penyintas Bencana Alam.”
  • Variabel (Fokus): Proses Resiliensi (Kebangkitan Mental).
  • Penjelasan Mendalam: Peneliti memandang resiliensi sebagai sebuah perjalanan (proses), bukan sekadar skor di atas kertas.
    • Data yang Digali: Tahapan trauma yang dialami, sumber kekuatan (anak, agama, atau komunitas), hingga bagaimana mereka memaknai penderitaan yang telah dilalui.
    • Hasil yang Diharapkan: Gambaran naratif tentang cara manusia bertahan hidup di tengah krisis yang ekstrem.

4. Bidang Sosiologi & Budaya (Bonus)

  • Judul: “Makna Tradisi Mudik bagi Masyarakat Perantau di Era Digital.”
  • Variabel (Fokus): Makna Budaya Mudik.
  • Penjelasan Mendalam: Variabel ini mengeksplorasi pergeseran nilai budaya akibat teknologi.
    • Data yang Digali: Apakah panggilan video (video call) bisa menggantikan kehadiran fisik? Bagaimana perantau mendefinisikan “pulang” di tengah kemudahan komunikasi digital?

Bagaimana Cara Menemukan Variabel Penelitian Kualitatif?

Menemukan variabel (atau fokus penelitian) dalam kualitatif bukan dimulai dari angka, melainkan dari kepekaan terhadap masalah. Berikut adalah langkah praktis dan sistematis untuk menentukannya:

1. Identifikasi Fenomena atau Masalah Unik

Langkah pertama adalah menemukan kesenjangan (gap) antara harapan dan kenyataan di lapangan. Variabel kualitatif biasanya muncul dari hal-hal yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan statistik.

  • Contoh: Anda melihat sebuah sekolah memiliki fasilitas minim, tetapi prestasi siswanya sangat tinggi. “Keunikan” inilah yang menjadi cikal bakal variabel penelitian Anda.

2. Lakukan Studi Pendahuluan (Observasi Awal)

Jangan langsung menentukan variabel di belakang meja. Turunlah ke lapangan atau baca literatur terkait untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.

  • Tips: Dengarkan keluhan, amati pola perilaku, atau baca berita terkini. Dari sini, Anda akan menemukan “kata kunci” yang sering muncul, misalnya: konflik, motivasi, adaptasi, atau kekecewaan.

3. Tentukan Unit Analisis

Tentukan siapa atau apa yang akan menjadi subjek penelitian Anda. Apakah itu individu, kelompok, organisasi, atau sebuah kebijakan? Unit analisis ini akan membantu Anda mempersempit variabel agar tidak terlalu luas.

  • Contoh: Jika unit analisisnya adalah “Ibu Rumah Tangga yang Berwirausaha”, maka variabelnya bisa berupa “Strategi Penyeimbangan Peran”.

4. Gunakan Kata Kerja Operasional Kualitatif

Untuk mengubah masalah menjadi variabel/fokus yang ilmiah, gunakan kata kerja yang menunjukkan kedalaman eksplorasi. Berikut adalah kata-kata kunci yang sering digunakan:

  • Persepsi/Sudut Pandang: Untuk menggali apa yang dipikirkan subjek.
  • Strategi/Upaya: Untuk menggali langkah-langkah yang diambil seseorang.
  • Dinamika: Untuk menggali proses perubahan atau perkembangan sesuatu.
  • Makna/Simbol: Untuk menggali arti di balik sebuah tindakan atau tradisi.

5. Rumuskan dalam Fokus Penelitian (Central Phenomenon)

Setelah mendapatkan kata kunci, susunlah menjadi satu fokus utama. Dalam kualitatif, Anda disarankan hanya memiliki satu fokus sentral agar pembahasan tidak melebar.

  • Prosesnya: Masalah (Anak putus sekolah) + Kata Kerja (Motivasi) = Motivasi Anak Putus Sekolah untuk Kembali Belajar. (Inilah variabel/fokus Anda).

6. Lakukan Konsultasi dengan Literatur (Grand Theory)

Cek apakah “variabel” yang Anda temukan sudah didukung oleh teori-teori besar. Meskipun kualitatif bisa membangun teori baru, memiliki landasan teori di awal akan membantu Anda menentukan batasan apa saja yang perlu digali saat wawancara nanti.

FAQ: Pertanyaan yang Sering Muncul Seputar Variable Penelitian Kualitatif

Bagian ini merangkum jawaban singkat dan padat atas pertanyaan yang paling sering diajukan oleh para peneliti dan mahasiswa.

1. Bagaimana cara mengukur variabel kualitatif?

Variabel kualitatif tidak diukur dengan angka atau statistik, melainkan dianalisis melalui pemberian makna (interpretasi)

Instrumen utamanya adalah peneliti itu sendiri. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian diolah melalui proses koding untuk menemukan tema-tema atau pola tertentu.

2. Apakah dalam penelitian kualitatif terdapat indikator?

Secara formal, kualitatif tidak menggunakan “indikator” kaku seperti pada kuesioner kuantitatif. 

Sebagai gantinya, peneliti menggunakan sub-fokus atau pedoman wawancara. Namun, untuk membantu memetakan data, peneliti sering kali menurunkan fokus penelitian menjadi beberapa poin pengamatan yang berfungsi mirip dengan indikator, tetapi tetap bersifat fleksibel dan bisa berubah di lapangan.

3. Apa saja 3 variabel penelitian yang umum dikenal?

Secara umum (terutama dalam paradigma kuantitatif), tiga jenis variabel yang sering dibahas adalah:

  1. Variabel Independen (Bebas): Variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab perubahan.
  2. Variabel Dependen (Terikat): Variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat.
  3. Variabel Moderating/Intervening: Variabel yang memperkuat, memperlemah, atau berada di antara hubungan variabel bebas dan terikat.

4. Apakah variabel ordinal bersifat kualitatif?

Variabel ordinal (seperti peringkat: Juara 1, 2, 3) sering dianggap berada di wilayah “abu-abu”. 

Secara kategori, ia bersifat kualitatif karena menunjukkan kualitas (peringkat), namun secara analisis sering dimasukkan ke dalam kuantitatif karena memiliki tingkatan nilai yang bisa diolah secara statistik. 

Dalam kualitatif murni, kita lebih fokus pada data nominal (kategori tanpa peringkat).

5. Apa contoh konkret variabel kualitatif dalam skripsi?

Contohnya antara lain: Budaya organisasi, persepsi konsumen, pola asuh orang tua, strategi adaptasi, atau makna sebuah ritual adat. Semuanya adalah konsep yang tidak bisa dijelaskan secara akurat hanya dengan angka tunggal.

6. Sebutkan 5 contoh variabel kuantitatif sebagai pembanding!

Berbeda dengan kualitatif, berikut adalah contoh variabel yang nilainya berupa angka pasti:

  1. Tinggi Badan (dalam centimeter).
  2. Jumlah Penduduk (dalam jiwa).
  3. Suhu Udara (dalam derajat Celsius).
  4. Lama Bekerja (dalam tahun/bulan).
  5. Pendapatan per Bulan (dalam Rupiah).

7. Bagaimana cara menemukan variabel dalam penelitian?

Caranya adalah dengan melakukan Gap Analysis (melihat perbedaan antara teori dan kenyataan), melakukan studi literatur, serta melakukan observasi awal di lokasi penelitian untuk melihat fenomena apa yang paling dominan muncul.

Kesimpulan

Menentukan variabel penelitian kualitatif memang memerlukan cara pandang yang berbeda. Anda harus berani meninggalkan pola pikir “mengukur” dan mulai beralih ke pola pikir “mengeksplorasi”. 

Dalam penelitian kualitatif, variabel bukanlah angka yang kaku, melainkan sebuah fokus penelitian atau konsep yang dinamis, kontekstual, dan holistik.

Ingatlah bahwa kunci keberhasilan penelitian kualitatif terletak pada kedalaman data yang Anda peroleh melalui wawancara dan observasi. 

Jangan lagi memusingkan variabel X dan Y yang linear; fokuslah pada bagaimana Anda bisa membedah makna di balik fenomena yang Anda teliti. Dengan batasan masalah yang jelas di Bab 1 dan metodologi yang kuat di Bab 3, penelitian Anda akan memiliki kualitas akademik yang tinggi.

Butuh Bantuan Menyusun Skripsi atau Karya Ilmiah?

Menyusun definisi operasional, mencari landasan teori, hingga melakukan parafrase hasil wawancara memang memakan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Namun, kini Anda tidak perlu menanggung beban itu sendirian.

Gunakan NulisKata: Platform Menulis AI & AI Writing Tools Indonesia nomor satu yang dirancang khusus untuk memenuhi standar tinggi akademisi dan mahasiswa. Kami bukan sekadar alat tulis biasa; NulisKata adalah asisten riset dan penulisan komprehensif yang siap mendampingi setiap tahapan karya ilmiah Anda.

Fitur Unggulan NulisKata untuk Riset Anda:

  • AI Writer & AI Chat: Susun draf skripsi, tesis, atau esai bab per bab dengan bantuan AI yang memahami struktur penulisan akademik secara mendalam.
  • Journal Search: Temukan referensi jurnal ilmiah yang relevan dan kredibel untuk memperkuat variabel serta landasan teori penelitian Anda.
  • PICO Analysis: Fitur khusus untuk membedah artikel penelitian menggunakan kerangka Population, Intervention, Comparison, & Outcome secara instan.
  • Parafrase & Humanize: Hindari plagiarisme dan deteksi AI dengan fitur parafrase tercanggih yang menjaga makna tetap utuh namun dengan gaya bahasa yang lebih manusiawi dan mengalir.
  • Summarize (Ringkasan): Pahami inti dari puluhan jurnal hanya dalam hitungan detik untuk mempercepat proses studi pustaka.
  • Translate (Terjemahan): Terjemahkan literatur asing ke Bahasa Indonesia atau sebaliknya dengan akurasi terminologi ilmiah yang tepat.

Jadikan proses menelitimu lebih efisien, terstruktur, dan bebas stres. Bergabunglah dengan ribuan mahasiswa lainnya yang telah membuktikan kecanggihan NulisKata.

Coba NulisKata sekarang dan rasakan kemudahan menulis karya ilmiah dengan teknologi AI paling akurat dan mutakhir di Indonesia!

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *