Menyusun Bab 2 atau Landasan Teori dalam skripsi maupun tesis sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa. Salah satu pondasi paling krusial yang harus diletakkan adalah membangun kerangka teoretis yang kuat mengenai metodologi yang digunakan.
Memahami penelitian kualitatif menurut para ahli bukan sekadar formalitas kutipan, melainkan kunci utama untuk menjamin validitas dan kredibilitas penelitian Anda. Dengan merujuk pada definisi yang otoritatif, Anda memberikan landasan ilmiah yang kokoh mengapa pendekatan ini adalah yang paling tepat untuk membedah masalah penelitian yang diangkat.
Secara umum, penelitian kualitatif dapat dipahami sebagai metode penelitian yang digunakan untuk meneliti kondisi objek yang alamiah, di mana peneliti berperan sebagai instrumen kunci.
Berbeda dengan metode kuantitatif yang berfokus pada pengujian hipotesis dan generalisasi angka, penelitian kualitatif lebih menitikberatkan pada upaya memperoleh pemahaman mendalam (deep understanding) terhadap suatu fenomena.
Di sini, data yang dikumpulkan biasanya berupa narasi, kata-kata, tindakan, atau dokumen, bukan sekumpulan statistik.
Signifikansi metode ini dalam studi ilmiah sangatlah besar, terutama saat kita berhadapan dengan fenomena sosial yang kompleks.
Penelitian kualitatif memungkinkan peneliti untuk mengeksplorasi sisi kemanusiaan, menangkap perspektif subjektif informan, serta memahami konteks budaya atau perilaku yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan kuesioner.
Tanpa bantuan metode kualitatif, esensi dari interaksi sosial dan makna di balik sebuah peristiwa sering kali akan luput dari pengamatan ilmiah.
Baca Juga: 10 Jenis Penelitian Kualitatif Lengkap dengan Contoh & Perbedaannya
Pengertian Penelitian Kualitatif Menurut Para Ahli
Untuk memberikan landasan teori yang kuat, berikut adalah rangkuman definisi penelitian kualitatif dari para tokoh metodologi paling berpengaruh, baik dari Indonesia maupun mancanegara:
1. Menurut Sugiyono
Prof. Dr. Sugiyono mendefinisikan metode penelitian kualitatif sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme. Metode ini digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah (sebagai lawan dari eksperimen).
Dalam pandangan Sugiyono, peneliti adalah instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitiannya lebih menekankan makna daripada generalisasi.
2. Menurut Lexy J. Moleong
Lexy J. Moleong, salah satu pakar kualitatif utama di Indonesia, menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian secara holistik (menyeluruh).
Fenomena tersebut bisa berupa perilaku, persepsi, motivasi, hingga tindakan, yang kemudian dideskripsikan dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah.
3. Menurut John W. Creswell
Creswell mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai suatu proses inkuiri (penyelidikan) untuk memahami masalah sosial atau masalah manusia.
Peneliti membangun gambaran yang kompleks dan holistik, menganalisis kata-kata, melaporkan pandangan rinci dari para informan, serta melakukan studi dalam situasi yang alami. Menurutnya, metode ini sangat bergantung pada pandangan partisipan.
4. Menurut Bogdan dan Taylor
Dalam karya klasik mereka, Bogdan dan Taylor mendefinisikan metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.
Pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu tersebut secara utuh (holistik), tanpa mengisolasinya ke dalam variabel atau hipotesis.
5. Menurut Strauss dan Corbin
Anselm Strauss dan Juliet Corbin mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai jenis penelitian yang menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak dapat dicapai (diperoleh) dengan menggunakan prosedur statistik atau alat kuantifikasi (perhitungan) lainnya.
Penelitian ini merujuk pada analisis kehidupan masyarakat, sejarah, tingkah laku, fungsionalisasi organisasi, dan gerakan sosial.
6. Denzin dan Lincoln
Dalam Handbook of Qualitative Research, Norman K. Denzin dan Yvonna S. Lincoln mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai aktivitas yang berlokasi di situasi tertentu dan menempatkan peneliti di dunia tersebut.
Penelitian ini terdiri dari serangkaian praktik interpretatif yang membuat dunia terlihat, dengan cara mengubahnya menjadi serangkaian representasi seperti catatan lapangan, wawancara, dan foto.
Intinya, pendekatan ini bersifat naturalistik dan interpretatif terhadap materi subjeknya.
7. Matthew B. Miles dan A. Michael Huberman
Miles dan Huberman, yang terkenal dengan teknik analisis data model alir, menekankan bahwa data kualitatif adalah data yang hadir dalam bentuk kata-kata dan bukan angka.
Mereka mendefinisikan penelitian ini sebagai investigasi yang datanya dikumpulkan melalui interaksi berkelanjutan dengan partisipan dalam situasi normal, yang menghasilkan data yang “tebal” (thick description) untuk menjelaskan fenomena.
8. Prof. Dr. Koentjaraningrat
Bapak Antropologi Indonesia ini mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai desain penelitian yang memiliki tiga format utama, yaitu penelitian deskriptif, verifikasi, dan grounded research. Beliau sangat menekankan pada penggalian kedalaman data untuk memahami kebudayaan dan perilaku manusia dalam konteks kemasyarakatan yang utuh.
9. David Williams
Williams memberikan definisi yang sangat menekankan aspek kealamiahan (naturalistic). Menurutnya, penelitian kualitatif adalah proses pengumpulan data pada latar alamiah, dengan menggunakan metode alamiah, dan dilakukan oleh peneliti yang memiliki ketertarikan alamiah terhadap apa yang diteliti tanpa adanya manipulasi variabel.
10. Nana Syaodih Sukmadinata
Pakar pendidikan ini menjelaskan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, hingga pemikiran orang secara individu maupun kelompok.
Beliau menegaskan bahwa penelitian ini berlandaskan pada filsafat konstruktivisme yang melihat realitas sebagai hasil konstruksi manusia.
11. Sharan B. Merriam
Merriam mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai “payung” bagi berbagai jenis penelitian inkuiri yang membantu kita memahami dan menjelaskan makna fenomena sosial.
Ia menekankan fokus pada proses dan pemahaman (understanding), di mana peneliti bertindak sebagai instrumen utama dalam mengumpulkan dan menginterpretasikan data.
12. James Spradley
Melalui pendekatan etnografinya yang terkenal, Spradley mendefinisikan analisis kualitatif sebagai cara berpikir sistematis untuk menguji sesuatu guna menentukan bagian-bagiannya dan hubungannya dengan keseluruhan.
Ia melihat penelitian kualitatif sebagai upaya pencarian pola-pola budaya (search for patterns).
13. Saryono
Saryono memberikan definisi yang membedakan secara tajam dengan metode kuantitatif. Menurutnya, penelitian kualitatif digunakan untuk menyelidiki, menemukan, menggambarkan, dan menjelaskan kualitas atau keistimewaan dari pengaruh sosial yang tidak dapat dijelaskan, diukur, atau digambarkan melalui pendekatan statistik.
14. Glaser dan Strauss
Pencetus Grounded Theory ini menekankan pada penemuan teori dari data. Mereka mendefinisikan kerja kualitatif sebagai proses meneliti peristiwa secara alami, mencatat, dan menafsirkan hasil tanpa berorientasi pada generalisasi populasi yang luas, karena setiap temuan sangat bergantung pada waktu dan situasi tertentu.
15. Moss dan Shank
Mereka merumuskan definisi yang ringkas namun padat: penelitian kualitatif adalah “a form of systematic empirical inquiry into meaning” (suatu bentuk penyelidikan empiris yang sistematis mengenai makna). Kata sistematis di sini berarti penelitian dilakukan secara terencana, tertib, dan mengikuti aturan ilmiah, bukan sekadar pengamatan acak.
Baca Juga: 50+ Contoh Penelitian Kualitatif Lengkap: Berbagai Metode & Bidang
Karakteristik Utama Penelitian Kualitatif
Berdasarkan sintesis dari pemikiran para ahli di atas, terdapat beberapa ciri khas atau karakteristik yang melekat pada setiap penelitian kualitatif:
1. Lingkungan Alamiah (Natural Setting)
Penelitian kualitatif dilakukan pada kondisi objek yang alami, bukan di laboratorium atau dalam kondisi yang dimanipulasi (eksperimen).
Peneliti datang langsung ke lokasi untuk mengamati fenomena sesuai dengan konteks aslinya tanpa mengubah apa pun.
2. Peneliti sebagai Instrumen Kunci (Human Instrument)
Dalam penelitian kualitatif, peneliti adalah alat pengumpul data utama. Peneliti harus terjun langsung, melakukan observasi, hingga mewawancarai informan.
Hal ini dikarenakan hanya manusia yang memiliki fleksibilitas untuk memahami makna, menangkap isyarat non-verbal, dan merespons dinamika di lapangan.
3. Analisis Data Secara Induktif
Berbeda dengan kuantitatif yang membuktikan teori (deduktif), penelitian kualitatif bersifat induktif.
Peneliti tidak berangkat dari hipotesis untuk dibuktikan, melainkan mengumpulkan fakta-fakta di lapangan terlebih dahulu, kemudian membangun pola atau teori berdasarkan temuan tersebut.
4. Fokus pada Makna (Meaning)
Karakteristik yang paling fundamental adalah pencarian makna. Peneliti tidak sekadar melihat “apa” yang terjadi, tetapi mencoba memahami “mengapa” dan “bagaimana” partisipan memaknai hidup atau pengalaman mereka.
Sudut pandang subjek penelitian (emic perspective) jauh lebih penting daripada sudut pandang peneliti.
5. Deskriptif Analitis
Data yang terkumpul biasanya berbentuk kata-kata, kalimat, gambar, atau perilaku manusia, bukan angka-angka statistik. Oleh karena itu, laporan penelitian kualitatif akan berisi deskripsi yang sangat mendalam dan kaya (thick description) untuk menggambarkan kompleksitas masalah.
6. Desain Penelitian Bersifat Fleksibel (Emergent Design)
Desain penelitian kualitatif bersifat sementara dan dapat berkembang di lapangan.
Peneliti boleh mengubah rencana awal jika menemukan fakta baru yang lebih menarik atau penting saat proses pengambilan data berlangsung.
7. Lebih Mementingkan Proses daripada Hasil
Dalam kualitatif, hubungan antar bagian yang sedang diteliti akan jauh lebih jelas apabila diamati dalam prosesnya.
Peneliti mengamati bagaimana suatu fenomena berkembang dari waktu ke waktu, bukan hanya melihat hasil akhirnya saja.
Tujuan Penelitian Kualitatif
Berdasarkan pendapat para pakar, tujuan utama dari penggunaan metode kualitatif dapat dikerucutkan menjadi tiga poin besar berikut ini:
1. Menggambarkan Realitas yang Kompleks
Fenomena sosial tidak pernah sederhana. Satu peristiwa bisa memiliki lapisan masalah yang saling tumpang tindih.
Tujuan penelitian kualitatif adalah untuk mengurai benang kusut tersebut dan menyajikannya dalam sebuah deskripsi yang utuh.
Peneliti berusaha memotret realitas secara multidimensional sehingga pembaca bisa melihat gambaran besar dari sebuah situasi sosial tanpa ada bagian yang tereduksi.
2. Mengembangkan Teori Baru (Grounded Theory)
Salah satu kontribusi terbesar penelitian kualitatif adalah kemampuannya untuk menghasilkan teori dari bawah (bottom-up).
Ketika teori-teori yang ada saat ini sudah tidak mampu lagi menjelaskan fenomena baru di masyarakat, penelitian kualitatif masuk untuk menggali data lapangan secara murni.
Dari data tersebut, peneliti membangun konsep, kategori, hingga akhirnya melahirkan teori baru yang berakar langsung dari fakta lapangan (grounded).
3. Memahami Makna di Balik Data yang Tampak
Dalam dunia sosial, apa yang terlihat di permukaan sering kali berbeda dengan apa yang dirasakan.
Misalnya, secara kuantitatif kita bisa melihat angka kemiskinan turun, namun secara kualitatif kita ingin tahu bagaimana masyarakat tersebut memaknai kemiskinan mereka dan bagaimana mereka bertahan hidup.
Tujuan utama di sini adalah menangkap “makna” (meaning) dan perspektif unik dari para pelaku sejarah atau informan tersebut.
Kesimpulan
Memahami penelitian kualitatif menurut para ahli adalah langkah awal yang krusial bagi setiap peneliti sebelum terjun ke lapangan.
Dari berbagai definisi yang dipaparkan oleh tokoh-tokoh seperti Sugiyono, Moleong, hingga Creswell, dapat disimpulkan bahwa penelitian kualitatif bukan sekadar metode alternatif, melainkan sebuah pendekatan mendalam untuk menangkap realitas sosial yang tidak bisa dijangkau oleh angka.
Inti dari penelitian kualitatif terletak pada kemampuannya untuk mengeksplorasi makna, memahami fenomena secara holistik, dan menempatkan peneliti sebagai instrumen yang fleksibel dalam latar yang alamiah.
Dengan landasan teori yang kuat dari para ahli, karya ilmiah Anda baik itu skripsi, tesis, maupun jurnal akan memiliki kredibilitas yang diakui secara akademis.
Memilih metode ini berarti Anda siap untuk menggali lebih dalam, mendengarkan lebih dekat, dan menyajikan kebenaran dari sudut pandang subjek penelitian itu sendiri.
Ingin Menyelesaikan Penulisan Ilmiah Lebih Cepat?
Menyusun landasan teori dan melakukan analisis kualitatif memang membutuhkan ketelitian ekstra. Jika Anda ingin mempercepat proses penulisan tanpa mengurangi kualitas, Anda bisa menggunakan NulisKata.
NulisKata adalah AI Writing Platform yang dirancang khusus untuk mempermudah tugas akademik dan profesional Anda.
Dengan berbagai fitur unggulan, Anda bisa menulis jauh lebih efisien:
- AI Writer & AI Chat: Bantu brainstorming ide dan draf konten secara instan.
- Journal Search: Temukan referensi ilmiah dengan lebih mudah.
- Parafrase & Humanize: Ubah kalimat agar lebih mengalir dan lolos deteksi AI.
- Summarize: Ringkas jurnal-jurnal tebal dalam hitungan detik.
- Translate: Terjemahkan literatur asing dengan akurasi tinggi.
Jadikan proses menulis skripsi atau riset kualitatif Anda lebih ringan dan menyenangkan. Coba NulisKata sekarang dan rasakan kemudahannya!










