Bagi mahasiswa tingkat akhir, tidak ada yang lebih mendebarkan daripada menunggu hasil laporan skor kemiripan dari aplikasi seperti Turnitin atau iThenticate.
Meskipun Anda sudah menulis dengan susah payah dan tidak berniat mencuri ide orang lain, sering kali skor yang muncul justru jauh di atas ambang batas toleransi kampus yang biasanya berkisar di angka 20% hingga 25%. Mengapa hal ini bisa terjadi?
Masalah utamanya bukan karena Anda tidak kreatif, melainkan karena banyak mahasiswa masih terjebak pada metode “ganti sinonim” yang bersifat dangkal.
Mengganti satu atau dua kata kunci ternyata tidak cukup untuk mengelabui algoritma deteksi plagiarisme modern yang sudah sangat canggih dalam mengenali pola struktur kalimat. Akibatnya, pengerjaan skripsi menjadi terhambat hanya karena urusan teknis penulisan.
Di sinilah pentingnya menguasai teknik parafrase manual. Parafrase bukan sekadar upaya “mengakali” sistem, melainkan keterampilan tingkat tinggi untuk memahami gagasan orang lain dan menyampaikannya kembali dengan suara atau gaya bahasa Anda sendiri tanpa mengubah esensi aslinya.
Dengan teknik yang benar, Anda tidak hanya akan lolos uji plagiarisme dengan mudah, tetapi juga akan menghasilkan karya ilmiah yang lebih enak dibaca dan berwibawa.
Dalam artikel ini, kita akan membedah 7 teknik parafrase manual yang praktis dan bisa langsung Anda terapkan pada bab-bab skripsi Anda hari ini juga.
Baca Juga: Parafrase Adalah: Pengertian, Teknik, dan Contoh Lengkap
7 Teknik Parafrase Manual untuk Skripsi & Tesis
Menguasai teknik parafrase adalah tentang fleksibilitas dalam mengolah struktur bahasa. Berikut adalah tujuh teknik yang bisa Anda kombinasikan untuk merombak naskah agar lebih orisinal:
1. Teknik Perubahan Struktur Kalimat
Ini adalah teknik dasar namun sangat efektif untuk memutus pola kalimat yang terdeteksi identik oleh sistem. Dengan mengubah subjek menjadi objek (atau sebaliknya), struktur kalimat akan berubah secara total di mata aplikasi plagiarism checker.
- Contoh: * Asli (Aktif): “Budi (2025) menemukan bahwa penggunaan AI dapat meningkatkan efisiensi kerja hingga 40%.”
- Parafrase (Pasif): “Peningkatan efisiensi kerja sebesar 40% ditemukan sebagai dampak dari penggunaan AI dalam riset yang dilakukan oleh Budi (2025).”
2. Teknik Perubahan Kelas Kata (Part of Speech)
Teknik ini mengharuskan Anda mengubah kategori kata, misalnya dari kata kerja menjadi kata benda. Perubahan ini secara otomatis akan memaksa Anda untuk menyusun ulang seluruh kalimat.
- Contoh: * Asli: “Peneliti menganalisis data menggunakan metode kualitatif.”
- Parafrase: “Hasil analisis terhadap data dilakukan melalui pendekatan metode kualitatif.”
3. Teknik Pemecahan Kalimat (Splitting)
Kalimat akademik seringkali terlalu panjang dan kompleks (kalimat majemuk bertingkat). Teknik splitting membagi kalimat tersebut menjadi beberapa kalimat pendek yang lebih lugas. Hal ini sangat efektif untuk menurunkan skor kemiripan teks.
- Contoh: * Asli: “Pemasaran digital sangat penting bagi UMKM karena biayanya yang murah dan jangkauannya yang sangat luas sehingga mampu meningkatkan omzet secara signifikan.”
- Parafrase: “Pemasaran digital memiliki peran krusial bagi UMKM. Hal ini dikarenakan efisiensi biaya dan luasnya jangkauan pasar yang ditawarkan. Dampak akhirnya adalah peningkatan omzet yang cukup besar.”
4. Teknik Penggabungan Kalimat (Merging)
Sebaliknya, jika Anda menemukan beberapa kalimat pendek yang berurutan, Anda bisa menggabungkannya menjadi satu kalimat komprehensif menggunakan konjungsi (kata hubung) yang tepat.
- Contoh: * Asli: “Teknologi blockchain sangat aman. Teknologi ini sulit diretas. Banyak bank mulai menggunakannya.”
- Parafrase: “Keamanan teknologi blockchain yang sangat tinggi dan sifatnya yang sulit diretas mendorong banyak institusi perbankan untuk mulai mengadopsinya.”
5. Penggunaan Sinonim yang Kontekstual
Jangan sekadar mengganti kata dengan sinonim dari kamus. Pastikan kata penggantinya sesuai dengan konteks akademik. Penting: Jangan mengganti istilah teknis/terminologi tetap (misalnya: “Metode Grounded Theory” tidak boleh diganti menjadi “Teori Dasar Tanah”).
- Contoh: * Asli: “Riset ini membuktikan bahwa strategi tersebut sangat bagus.”
- Parafrase: “Studi ini menunjukkan bahwa strategi tersebut memiliki efektivitas yang tinggi.”
6. Mengubah Urutan Ide
Teknik ini melibatkan pengubahan alur logika dalam sebuah paragraf. Jika sumber asli memulai dengan “Penyebab $\rightarrow$ Akibat”, Anda bisa membaliknya menjadi “Akibat $\rightarrow$ Karena $\rightarrow$ Penyebab”.
- Contoh: * Asli: “Kurangnya jam tidur menyebabkan konsentrasi menurun dan produktivitas terganggu.”
- Parafrase: “Produktivitas yang terhambat serta penurunan tingkat konsentrasi sering kali dipicu oleh waktu tidur yang tidak mencukupi.”
7. Metode “Read-Understand-Write”
Ini adalah teknik paling “pro” untuk menghasilkan orisinalitas 100%. Caranya: Baca paragraf sumber berkali-kali sampai paham, tutup bukunya/layarnya, lalu tuliskan apa yang Anda ingat di kertas atau dokumen baru. Gaya bahasa yang keluar akan murni merupakan “suara” Anda sendiri.
Baca Juga: 3 Perbedaan Ringkasan, Kutipan, dan Parafrase beserta Contohnya
Hal yang Boleh dan Tidak Boleh Dilakukan dalam Parafrase Akademik
Melakukan parafrase bukan sekadar seni merangkai kata, tapi juga tentang etika. Banyak mahasiswa yang terjebak dalam “plagiarisme tidak sengaja” karena melompati poin-poin krusial berikut ini:
Dos (Lakukan Ini):
- Tetap Cantumkan Sitasi: Ini adalah aturan nomor satu. Meskipun kalimatnya sudah berubah 100%, ide atau temuan tersebut tetap milik orang lain. Anda wajib mencantumkan nama penulis dan tahun di akhir kalimat parafrase.
- Pertahankan Istilah Teknis (Terminologi): Kata-kata seperti “Interpersonal Communication”, “Return on Investment”, atau “Metode Kualitatif” adalah istilah baku. Jangan dipaksakan mencari sinonimnya karena justru akan merusak kredibilitas ilmiah Anda.
- Gunakan Kalimat Transisi: Gunakan kata penghubung seperti “Namun”, “Di sisi lain”, atau “Oleh karena itu” untuk menyambungkan ide parafrase Anda dengan argumen pribadi agar mengalir (flow) dengan baik.
Don’ts (Hindari Ini):
- Jangan Lakukan Patchwork Plagiarism: Menulis dengan cara mengganti 1-2 kata kunci saja tetapi tetap mempertahankan sisa struktur kalimat asli. Sistem seperti Turnitin akan sangat mudah mendeteksi pola ini.
- Jangan Mengubah Makna: Jangan sampai demi menghindari plagiarisme, Anda mengubah makna asli penelitian orang lain. Pastikan esensi temuannya tetap akurat.
- Jangan Malas Membaca Keseluruhan: Jangan hanya parafrase abstraknya saja. Bacalah bagian pembahasan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam agar parafrase Anda lebih kaya sudut pandang.
Baca Juga: Cara Membuat Tulisan Enak Dibaca dengan Teknik Rephrasing
Cara Melakukan Validasi dan Verifikasi Skor Orisinalitas
Setelah Anda bersusah payah menerapkan teknik parafrase manual, langkah terakhir yang tidak boleh dilewatkan adalah validasi. Jangan pernah mengirim naskah ke dosen pembimbing sebelum Anda yakin dengan tingkat orisinalitasnya. Berikut adalah strategi cerdas untuk melakukan verifikasi mandiri:
1. Lakukan Pengecekan Mandiri (Self-Check) Secara Berkala
Jangan menunggu seluruh skripsi selesai untuk melakukan pengecekan. Lakukan self-check per bab menggunakan aplikasi pengecek plagiarisme tepercaya.
- Tujuan: Mendeteksi sedari dini bagian mana yang secara tidak sengaja masih memiliki kemiripan struktur (structural similarity) dengan sumber internet atau jurnal ilmiah.
- Manfaat: Anda memiliki waktu lebih banyak untuk memperbaiki bagian yang “merah” sebelum draf sampai ke tangan dosen atau bagian administrasi kampus.
2. Pahami Standar Batas Toleransi dan “Single Source”
Memahami angka persentase saja tidak cukup. Anda harus tahu cara membaca laporan plagiarisme secara mendetail.
- Angka Umum: Mayoritas kampus menetapkan batas kemiripan antara 15% hingga 25%.
- Aturan Single Source: Ingatlah bahwa skor total rendah (misalnya 10%) tidak selalu menjamin keamanan. Jika skor 10% tersebut berasal dari satu sumber tunggal, naskah Anda tetap berisiko dianggap plagiat. Pastikan kemiripan tersebar dari banyak sumber dengan persentase per sumber di bawah 1%–3%.
3. Optimasi Hasil dengan Fitur Filter (Exclude)
Laporan plagiarisme sering kali terlihat “menakutkan” karena angka yang tinggi, padahal yang terdeteksi adalah elemen yang memang tidak bisa diubah. Gunakan fitur filter agar hasil pengecekan lebih objektif:
- Exclude Bibliography: Mengabaikan daftar pustaka yang pasti terdeteksi sama oleh sistem.
- Exclude Quotes: Mengabaikan teks yang berada di dalam tanda kutip (kutipan langsung yang sah).
- Exclude Small Sources: Biasanya diatur untuk mengabaikan kemiripan kata di bawah 1% atau di bawah 10 kata berurutan untuk menghindari deteksi pada istilah umum atau nama institusi.
4. Evaluasi Bagian yang “Terkena” Deteksi
Jika setelah filter angka masih tinggi, periksalah bagian mana yang paling banyak disorot (highlighted). Jika bagian tersebut adalah Landasan Teori, maka Anda perlu melakukan teknik parafrase ulang pada bagian tersebut.
Namun, jika yang terdeteksi adalah Nama Undang-Undang atau Nama Lembaga, hal ini biasanya dapat ditoleransi oleh dosen penguji selama sitasinya benar.
Baca Juga: 5 Tips Cara Menghindari Plagiarisme dalam Penulisan Artikel
Ingin Proses Parafrase Lebih Cepat dan Akurat?
Terkadang, saat dikejar deadline atau sedang mengalami writer’s block, merangkai kata secara manual bisa sangat menguras tenaga. Di sinilah NulisKata hadir sebagai asisten cerdas Anda.
NulisKata adalah platform AI writing tools terlengkap yang dirancang untuk meningkatkan produktivitas menulismu.
Gunakan fitur Parafrase Online kami untuk mendapatkan rekomendasi struktur kalimat yang lebih beragam, natural, dan tetap memiliki nada akademik.
Tidak hanya itu, tersedia juga fitur Summarizer, Translator, Humanizer, hingga AI Writer dalam satu tempat. Selesaikan skripsimu lebih cepat dengan hasil yang berkualitas. Coba NulisKata sekarang!

Leave a Reply