15 Tujuan Penelitian Kualitatif yang Wajib Diketahui Peneliti dan Mahasiswa

15 Tujuan Penelitian Kualitatif yang Wajib Diketahui Peneliti dan Mahasiswa

Dunia penelitian sering kali diidentikkan dengan tumpukan data, grafik, dan rumus statistik yang rumit.

Namun, dalam penelitian kualitatif, kita tidak sedang berburu angka atau mencoba membuktikan probabilitas. 

Alih-alih bertanya “seberapa banyak”, penelitian kualitatif justru berfokus pada pencarian sebuah makna.

Ia hadir untuk membedah alasan di balik perilaku manusia, menangkap emosi yang tersirat, dan memahami realitas sosial dari perspektif yang lebih manusiawi.

Secara garis besar, penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk menyelidiki, menemukan, menggambarkan, dan menjelaskan kualitas atau keistimewaan dari pengaruh sosial yang tidak dapat dijelaskan dengan angka atau ukuran. 

Data yang dikumpulkan biasanya berupa kata-kata, tindakan, atau dokumen yang kaya akan konteks.

Mengapa memahami tujuan penelitian kualitatif menjadi sangat krusial sebelum Anda terjun ke lapangan? Tanpa pemahaman tujuan yang jelas, seorang peneliti akan mudah tersesat dalam lautan informasi yang luas. 

Memahami tujuan sejak awal berfungsi sebagai kompas: ia menentukan siapa yang harus Anda wawancarai, bagaimana Anda mengamati sebuah fenomena, hingga bagaimana Anda menyusun narasi yang kuat dari data yang ditemukan.

Berikut adalah 15 tujuan penelitian kualitatif yang akan membantu Anda memetakan arah penelitian dengan lebih tajam dan mendalam.

Baca Juga: Panduan Lengkap Penelitian Akademik: Tahapan, Etika & Tips Menulis

15 Tujuan Penelitian Kualitatif dalam Studi Ilmiah

Dalam praktik akademis dan lapangan, penelitian kualitatif memiliki spektrum tujuan yang sangat luas.

Berikut adalah 15 tujuan utama yang menjelaskan mengapa metode ini menjadi pilihan penting bagi para peneliti:

1. Memahami Makna (Meaning Making)

Tujuan paling mendasar dari penelitian kualitatif adalah mengungkap bagaimana individu memberikan arti atau makna terhadap pengalaman hidup yang mereka alami. 

Berbeda dengan metode kuantitatif yang mungkin hanya mencatat “apa” yang terjadi, penelitian kualitatif menggali “apa arti” kejadian tersebut bagi orang yang menjalaninya.

Setiap individu memiliki latar belakang, emosi, dan sudut pandang yang unik. Oleh karena itu, sebuah peristiwa yang sama bisa dimaknai secara berbeda oleh orang yang berbeda. 

Peneliti kualitatif berusaha masuk ke dalam “dunia dalam” (inner world) partisipan untuk memahami realitas subjektif tersebut.

Contoh Penerapan:

  • Dalam Studi Psikologi: Peneliti tidak hanya menghitung berapa banyak orang yang mengalami kehilangan, tetapi menggali bagaimana individu memaknai “kehilangan” tersebut sebagai titik balik pendewasaan atau justru trauma mendalam.
  • Dalam Studi Karir: Memahami makna “kesuksesan” bagi seorang pengusaha. Apakah sukses berarti kekayaan materi, ataukah keberhasilan memberikan dampak sosial bagi orang lain?

Dengan memahami makna, peneliti dapat menyajikan gambaran yang manusiawi dan empatik, yang tidak bisa direpresentasikan hanya melalui angka atau statistik. 

Proses meaning making ini membantu kita menyadari bahwa realitas sosial adalah kumpulan dari berbagai persepsi individu yang saling terkait.

2. Eksplorasi Fenomena yang Belum Diketahui

Dunia terus berubah, dan sering kali muncul fenomena sosial, tren, atau masalah baru yang belum memiliki landasan teori yang kuat. 

Dalam kondisi seperti inilah penelitian kualitatif mengambil peran sebagai pionir. Ketika sebuah topik masih asing dan literatur ilmiah masih sangat terbatas, tujuan penelitian kualitatif adalah untuk melakukan eksplorasi mendalam guna membuka gerbang informasi awal.

Peneliti kualitatif tidak berangkat dengan hipotesis yang kaku, melainkan dengan rasa ingin tahu yang besar. 

Tujuannya adalah untuk memetakan karakteristik awal dari fenomena tersebut, mencari tahu pola-pola yang muncul, dan memberikan pemahaman mendasar yang sebelumnya tidak tersedia di buku teks mana pun.

Contoh Penerapan:

  • Tren Teknologi Baru: Saat pertama kali muncul fenomena kecanduan media sosial tertentu yang baru rilis, penelitian kualitatif dilakukan untuk mengeksplorasi bagaimana pola interaksi penggunanya sebelum para ahli bisa membuat alat ukur psikologis yang pasti.
  • Isu Sosial Kontemporer: Meneliti bagaimana sebuah komunitas kecil beradaptasi dengan perubahan iklim yang ekstrem di wilayah terpencil yang belum pernah tersentuh oleh studi akademis sebelumnya.

Eksplorasi ini sangat penting karena berfungsi sebagai fondasi. Tanpa eksplorasi kualitatif, peneliti selanjutnya tidak akan memiliki gambaran tentang variabel apa yang harus diukur secara kuantitatif. 

Dengan kata lain, tujuan ini adalah untuk “menerangi” area yang masih gelap dalam peta ilmu pengetahuan sehingga peneliti lain dapat melanjutkannya dengan cakrawala yang lebih luas.

3. Mendeskripsikan Konteks Sosial secara Utuh

Berbeda dengan eksperimen laboratorium yang mengisolasi subjek dari lingkungannya, penelitian kualitatif justru sangat “haus” akan konteks. 

Tujuan utamanya di sini adalah memotret sebuah fenomena dalam setting alami (naturalistic setting). 

Peneliti meyakini bahwa perilaku manusia tidak terjadi di ruang hampa; ia dipengaruhi oleh di mana mereka berada, dengan siapa mereka bicara, dan budaya apa yang melingkupinya.

Dalam poin ini, tujuan peneliti bukan untuk mengubah atau memanipulasi keadaan, melainkan menjadi saksi bisu yang mencatat realitas apa adanya. 

Dengan mendeskripsikan konteks secara utuh, pembaca hasil penelitian dapat memahami “atmosfer” di lapangan secara mendetail.

Mengapa Konteks Itu Penting?

  • Keaslian Data: Tindakan seseorang di kantor mungkin berbeda dengan saat mereka di rumah. Peneliti kualitatif ingin menangkap kejujuran tindakan tersebut berdasarkan lokasinya.
  • Faktor Lingkungan: Misalnya, dalam meneliti pola belajar siswa, peneliti kualitatif tidak hanya melihat nilai ujian, tapi juga mendeskripsikan kondisi kelas yang bising, fasilitas yang terbatas, hingga hubungan antara guru dan murid.

Contoh Sederhana: Jika Anda meneliti tentang “budaya kerja startup“, Anda tidak cukup hanya mewawancarai karyawan di kafe. 

Anda perlu datang ke kantor mereka, melihat bagaimana meja ditata, bagaimana gaya berpakaian mereka, hingga bagaimana cara mereka berinteraksi saat jam istirahat. Deskripsi konteks inilah yang memberikan “nyawa” pada laporan penelitian Anda.

4. Menjelaskan Proses yang Kompleks

Jika penelitian kuantitatif sering kali hanya berfokus pada hasil akhir (seperti “berapa banyak yang berhasil” atau “apa dampaknya”), penelitian kualitatif justru hadir untuk membedah proses

Tujuannya adalah untuk mengurai benang kusut dari sebuah peristiwa dan menjelaskan bagaimana sesuatu terjadi dari waktu ke waktu secara kronologis dan mendalam.

Banyak fenomena sosial yang tidak terjadi secara instan, melainkan melalui tahapan transisi, konflik internal, dan penyesuaian. 

Di sinilah penelitian kualitatif berperan untuk menjawab pertanyaan “bagaimana” proses tersebut berjalan, mengapa arahnya berubah, dan apa saja dinamika yang terjadi di tengah jalan.

Mengapa Fokus pada Proses?

  • Melihat Perubahan: Peneliti dapat menangkap pergeseran sikap partisipan dari awal hingga akhir sebuah kejadian.
  • Menemukan Titik Balik: Mengidentifikasi momen spesifik yang menyebabkan seseorang mengubah keputusan atau perilakunya.

Contoh Penerapan:

  • Dalam Studi Organisasi: Bukannya hanya melihat apakah sebuah perusahaan mengalami kemajuan, peneliti kualitatif akan menelusuri bagaimana proses adaptasi karyawan saat pergantian pimpinan terjadi, termasuk hambatan komunikasi dan cara mereka mengatasi ketegangan.
  • Dalam Studi Kesehatan: Menjelaskan proses psikologis seorang pasien dari saat pertama kali didiagnosis penyakit kronis hingga mencapai tahap penerimaan diri (acceptance).

Dengan menjelaskan proses yang kompleks, penelitian kualitatif memberikan pemahaman yang tidak “hitam-putih”, melainkan sebuah narasi yang mengalir dan logis tentang perjalanan suatu fenomena.

5. Mengidentifikasi Variabel Baru

Sering kali, seorang peneliti terjebak dalam teori-teori lama yang sudah ada. Nah, penelitian kualitatif berfungsi sebagai “radar” untuk menemukan faktor-faktor penting yang sebelumnya luput dari pengamatan. 

Tujuannya adalah untuk menggali variabel tersembunyi yang belum pernah terukur atau teridentifikasi dalam penelitian-penelitian terdahulu.

Dalam metode kuantitatif, peneliti biasanya sudah menentukan variabel apa yang akan diuji (misalnya: pengaruh X terhadap Y). 

Namun, dalam kualitatif, peneliti membiarkan lapangan “berbicara”. Dari percakapan mendalam atau observasi, sering kali muncul faktor kejutan yang ternyata memiliki pengaruh besar terhadap masalah yang sedang diteliti.

Apa Manfaat Menemukan Variabel Baru?

  • Memperkaya Teori: Menambah dimensi baru dalam pemahaman ilmu pengetahuan.
  • Jembatan Penelitian Lanjutan: Temuan variabel ini nantinya bisa dikonversi menjadi indikator atau kuesioner dalam penelitian kuantitatif yang lebih luas.

Contoh Kasus: Bayangkan Anda meneliti tentang “penyebab rendahnya produktivitas karyawan”. Secara teori umum, variabelnya mungkin hanya gaji dan beban kerja. 

Namun, setelah melakukan wawancara kualitatif yang mendalam, Anda menemukan variabel baru seperti “kualitas cahaya ruangan” atau “kebiasaan mengobrol saat makan siang” yang ternyata jauh lebih berpengaruh terhadap mood kerja mereka. 

Tanpa pendekatan kualitatif, variabel unik ini mungkin tidak akan pernah muncul ke permukaan.

6. Memahami Perspektif Partisipan (Emic View)

Jika kebanyakan metode riset mencoba menilai subjek dari kriteria luar, penelitian kualitatif justru melakukan hal sebaliknya. 

Tujuan di sini adalah untuk mengadopsi Perspektif Emic, yaitu melihat dunia benar-benar dari “kacamata” orang yang sedang diteliti. 

Peneliti berusaha menanggalkan jubah akademisnya sejenak dan masuk ke dalam logika berpikir partisipan.

Tujuannya bukan untuk menentukan benar atau salah secara objektif, melainkan untuk memahami mengapa sesuatu dianggap benar atau masuk akal bagi kelompok tersebut. 

Ini adalah upaya untuk menangkap kejujuran subjektif yang sering kali tersembunyi di balik angka-angka statistik.

Keunggulan Perspektif Emic:

  • Menghindari Bias Peneliti: Peneliti tidak memaksakan standarnya sendiri (perspektif etic) kepada subjek.
  • Kedalaman Empati: Memungkinkan peneliti untuk merasakan tekanan, harapan, dan ketakutan yang dirasakan partisipan dalam situasi tertentu.

Contoh Sederhana: Dalam meneliti sebuah komunitas adat yang menolak pengobatan modern, peneliti tidak langsung memberi label “ketinggalan zaman”. Sebaliknya, tujuan kualitatif adalah memahami perspektif mereka: Mungkin bagi mereka, pengobatan adalah soal keseimbangan spiritual, bukan sekadar urusan biologis. 

Dengan memahami perspektif ini, peneliti bisa memberikan laporan yang jauh lebih adil dan akurat mengenai realitas kehidupan mereka.

7. Menganalisis Interaksi Sosial

Manusia adalah makhluk yang terus bergerak dalam jaring-jaring komunikasi. Tujuan ketujuh dari penelitian kualitatif adalah untuk membedah bagaimana individu berinteraksi di dalam kelompok atau budaya tertentu. 

Fokusnya bukan pada individu secara terisolasi, melainkan pada “apa yang terjadi di antara mereka”.

Peneliti kualitatif ingin menangkap dinamika sosial yang cair, mulai dari cara orang menyapa, bernegosiasi, hingga bagaimana konflik diselesaikan dalam sebuah komunitas. 

Hal ini mencakup analisis terhadap bahasa verbal, isyarat tubuh, hingga aturan-aturan tidak tertulis yang mengatur jalannya sebuah kelompok.

Mengapa Fokus pada Interaksi?

  • Mengungkap Struktur Sosial: Memahami siapa yang memiliki pengaruh (power) dan bagaimana peran tersebut dimainkan dalam percakapan sehari-hari.
  • Melihat Pola Komunikasi: Mengidentifikasi hambatan atau kebiasaan unik dalam bertukar informasi yang mungkin tidak terlihat dari luar.

Contoh Penerapan:

  • Dalam Lingkungan Kantor: Peneliti tidak hanya bertanya tentang kepuasan kerja, tetapi mengamati bagaimana karyawan berinteraksi saat rapat. Apakah ada dominasi dari pihak tertentu? Bagaimana cara mereka menyampaikan kritik secara halus?
  • Dalam Komunitas Digital: Menganalisis bagaimana anggota sebuah grup di media sosial membangun solidaritas melalui komentar, penggunaan emoji, atau bahasa slang tertentu yang hanya dipahami oleh kelompok mereka.

Melalui analisis interaksi sosial ini, penelitian kualitatif mampu menyajikan gambaran tentang “perekat” yang menyatukan sebuah kelompok dan bagaimana dinamika tersebut memengaruhi tindakan kolektif mereka.

8. Mengungkap Motivasi Tersembunyi

Banyak tindakan manusia yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan kuesioner. Tujuan kualitatif adalah menggali lebih dalam untuk menemukan alasan logis, emosional, atau psikologis di balik keputusan seseorang.

9. Mengembangkan Teori Baru (Grounded Theory)

Bukan sekadar menguji teori yang sudah ada, kualitatif bertujuan untuk membangun teori langsung dari data lapangan. Ini sangat berguna untuk menciptakan konsep baru yang lebih relevan dengan kondisi terkini.

10. Evaluasi Program atau Kebijakan

Dalam dunia praktis, kualitatif bertujuan mengevaluasi apakah sebuah program berjalan efektif secara substansi. Peneliti melihat bagaimana dampak kebijakan tersebut terhadap kesejahteraan dan respons nyata masyarakat.

11. Mempelajari Budaya (Etnografi)

Tujuannya adalah memahami seluk-beluk kebudayaan, mulai dari nilai-nilai yang dianut, norma, hingga tradisi yang diwariskan secara turun-temurun dalam suatu masyarakat.

12. Mengkaji Sejarah dan Biografi

Penelitian kualitatif bertujuan merekonstruksi peristiwa masa lalu atau perjalanan hidup seseorang. Dengan menganalisis dokumen dan narasi lisan, peneliti dapat menyusun kepingan sejarah yang otentik.

13. Memberdayakan Kelompok Marjinal

Salah satu tujuan mulia kualitatif adalah memberikan “panggung” bagi kelompok yang sering tidak terdengar suaranya. Penelitian ini bertujuan mengungkap ketidakadilan dan memberikan ruang bagi narasi mereka.

14. Menganalisis Perubahan Perilaku

Peneliti ingin melihat bagaimana pola pikir atau tindakan suatu kelompok bergeser karena pengaruh tertentu. Hal ini melibatkan pengamatan mendalam terhadap transisi perilaku dalam jangka waktu tertentu.

15. Memberikan Interpretasi Mendalam (Thick Description)

Tujuan akhirnya adalah menyajikan laporan yang kaya, detail, dan sangat deskriptif. Hasilnya bukan sekadar persentase, melainkan cerita yang mampu membawa pembaca merasakan atmosfer dan kedalaman data yang ditemukan.

Memahami tujuan penelitian kualitatif adalah langkah krusial yang akan menentukan kualitas temuan Anda di lapangan. 

Berbeda dengan penelitian kuantitatif yang mengejar generalisasi dan angka, penelitian kualitatif menawarkan kedalaman, konteks, dan pemahaman yang manusiawi. 

Dari 15 poin yang telah kita bahas, jelas bahwa metode ini bukan sekadar alat pengumpulan data, melainkan cara bagi peneliti untuk menyelami realitas sosial yang kompleks.

Baik Anda bertujuan untuk mengeksplorasi fenomena baru, mengungkap motivasi tersembunyi, maupun memberdayakan kelompok yang marjinal, kekuatan utama penelitian kualitatif terletak pada kejujuran datanya. 

Dengan kompas tujuan yang jelas, seorang peneliti tidak hanya akan menghasilkan karya ilmiah yang valid, tetapi juga mampu memberikan narasi yang bermakna bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat.

Maksimalkan Penulisan Artikel Ilmiah Anda dengan Nulis Kata

Menyusun pembahasan penelitian kualitatif yang mendalam memang membutuhkan ketelitian dan waktu yang tidak sedikit. 

Jika Anda merasa kesulitan merangkai kata-kata agar terlihat lebih profesional, akademis, namun tetap enak dibaca, Anda bisa menggunakan bantuan NulisKata.

NulisKata adalah platform AI writing tools yang dirancang khusus untuk membantu penulis, mahasiswa, dan peneliti menghasilkan konten berkualitas tinggi secara instan. 

Mulai dari menyusun draf artikel, parafrase kalimat agar bebas plagiasi, hingga mengembangkan ide penelitian, semua bisa dilakukan dengan lebih mudah di Nulis Kata.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *